PIKIRANLOKAL.COM, JAKARTA–Desakan membongkar skandal CSR Bank Indonesia kian menguat. KPK didorong menguliti dugaan penjarahan miliaran rupiah yang menyeret anggota Komisi XI DPR. Di balik rapat-rapat resmi dan senyum legislator, mengintai aroma permainan gelap yang menodai nama Senayan.
Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPI) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak berhenti pada dua tersangka yang sudah ditetapkan. Ketua Bidang Hukum dan HAM PP GPI, Midul Makati, SH., MH, menuntut lembaga antirasuah itu memeriksa seluruh anggota Komisi XI DPR RI periode 2019–2024.
“Kami ingin KPK mengungkap semua, tak ada yang luput. CSR BI adalah dana publik, harus ada transparansi dan akuntabilitas,” kata Midul di Jakarta, Rabu (13/8/2025).
Ia menilai modus yang digunakan para pelaku terlalu licik, memalak CSR BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga puluhan miliar rupiah, lalu menyalurkannya ke yayasan pribadi dengan dalih program bantuan sosial fiktif.
KPK sebelumnya telah menetapkan dua anggota Komisi XI, Satori dari Fraksi NasDem dan Heri Gunawan dari Fraksi Gerindra, sebagai tersangka gratifikasi dan pencucian uang. Namun, PP GPI menilai masih ada nama-nama lain yang harus diungkap. Midul bahkan menyebut salah satu anggota DPR RI daerah pemilihan Sulawesi Tenggara, yang saat itu duduk di Komisi XI, diduga menggunakan yayasan fiktif bernama Marennu Cerdas Sultra. Direktur yayasan itu, kata Midul, adalah seorang anggota DPRD kabupaten di Sulawesi Tenggara.
Bantuan CSR yang disalurkan melalui BI Perwakilan Sultra itu, ujar Midul, digunakan untuk kepentingan politik menjelang pencalonan sang legislator di Pemilu 2024. “Kami minta KPK menelusuri aliran dana ini sampai tuntas,” katanya.
Desakan PP GPI turut diselipi pesan politik. Midul mengingatkan bahwa Presiden Prabowo Subianto kerap menegaskan sikap antikorupsinya, bahkan jika pelaku adalah kader Partai Gerindra yang ia pimpin. “Pak Prabowo benci korupsi. Ia berulang kali bilang akan membasmi koruptor sampai ke akar, meski itu orangnya sendiri,” ujar Midul.
Kini, bola panas ada di tangan KPK. Publik menanti, apakah seluruh pintu dugaan korupsi CSR BI akan dibuka, atau hanya sebagian yang diketuk.(ali).