Ritus Kota, Silaturahmi Seni Penyair Kendari

Poster Ritus Kota: Ajakan berkumpul para penyair dan seniman Kendari. 27 September 2025, Taman Budaya Sulawesi Tenggara. Silaturahmi seni yang menjahit kata, bunyi, dan rupa.

PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI-Pada Sabtu malam, 27 September 2025, Taman Budaya Sulawesi Tenggara akan berubah jadi altar kecil bagi kata dan nada. Dua puluh penyair dan seniman dari Kendari berkumpul dalam sebuah hajatan yang mereka sebut Ritus Kota. Sebuah silaturahmi seni yang bukan sekadar pentas, melainkan perjumpaan batin di tengah hiruk pikuk pembangunan ibukota provinsi ini.

Ajang ini digagas dua komunitas sastra, Pustaka Kabanti dan Pekamata, yang menempatkan seni sebagai jembatan lintas generasi dan ruang inklusif bagi para pelaku budaya.

Kegiatan ini berangkat dari keyakinan bahwa jagat seni Kendari tumbuh dari ekosistem yang saling terhubung. “Ritus Kota diandaikan sebagai perjumpaan antara seniman dan komunitas yang sama-sama punya jejak dan kontribusi,” kata Syaifuddin Gani, Ketua Pustaka Kabanti, Jumat 26 September 2025.

Sebagai sebuah ritus, forum ini diposisikan di tengah gegap gempita pembangunan dan modernitas kota. Visi yang diusung: mencari keseimbangan antara infrastruktur dan kebudayaan.

“Kami ingin seni dipandang sebagai bagian penting dari kemajuan kota, bukan sekadar pelengkap,” ujar Syaifudin Gani.

Dua puluh nama yang akan tampil bukan orang sembarangan. Mereka antara lain Abdul Razak Abadi, Iwan Djibran, Yusuf IW, Wa Ode Nur Iman, hingga Aulia Indah Hapsari. Mereka bakal menurunkan karya puisi, pembacaan lirik, hingga musikalitas yang lirih sekaligus kritis. Jalannya acara dipandu oleh pewara Kiki Reskiayana Ilyas.

Ritus Kota juga melibatkan banyak mitra, mulai dari komunitas teater, pegiat literasi, hingga lembaga seni. Antara lain The La Malonda Institute, Kampung Pisang, UK Seni UHO, Teater Sendiri, Forum TBM Sultra, Rumah Andakara, sampai Tasaro Kopi. Kolaborasi ini dianggap penting untuk menumbuhkan tradisi bermitra dalam kerja kesenian.

Selain pentas, para seniman bakal memberi testimoni tentang posisi seni di Kendari dalam hubungannya dengan masyarakat, tradisi, pembangunan, dan regenerasi. Pesannya jelas: ada kebutuhan mendesak agar pemerintah memberi ruang nyata bagi seni dan seniman di Sulawesi Tenggara.

“Banyak karya seniman kita sudah menembus festival nasional bahkan internasional. Kendari punya potensi besar, tinggal bagaimana pemerintah memberi perhatian lewat kebijakan dan anggaran,” kata Arif Relano Oba, Ketua Pekamata.

Penonton yang diundang datang dari beragam kalangan: seniman, mahasiswa, komunitas literasi, guru, siswa, pegawai pemerintah, hingga masyarakat umum. Mereka diharapkan menjadi saksi lahirnya sebuah ritus baru di jantung kota.

Ritus Kota, pada akhirnya, ingin menjadi penanda bahwa di tengah jalan raya yang berdebu dan gedung yang menjulang, selalu ada kata-kata menyejukan berdakwah untuk telinga. Bahwa Kendari bukan hanya kota modernitas, tapi juga kota puisi.(ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
error: Content is protected !!