Oleh: Muhammad Akbar Ali
(Penulis adalah pembaca buku, penulis, dan penikmat kopi)
PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI-Delapan puluh tahun bendera dikibarkan
Merah darah, putih tulang Gema pekik “Merdeka!” menggaung di udara
Namun tanah air, tubuh ibu pertiwi Masih digerogoti luka-luka lama
Dengan wajah penjajah yang berbeda rupa.
Penjajahan tak lagi datang dengan senapan Tak lagi dengan serdadu asing bersepatu lars
Ia menyamar dalam tanda tangan kontrak Dalam lisensi tambang, dalam skema utang
Dalam pasar bebas yang membelenggu Dan elit-elit negeri yang rela jadi perpanjangan tangan.
Di Konawe Utara, tanah terbelah
Tambang ilegal bak pesta tanpa hukum Setiap orang bisa jadi tuan
Asal punya beking di belakang.
Di Konawe Selatan, Angata menangis Warga mempertahankan tanah warisan leluhur
Namun dirampas atas nama investasi Atas nama PT Marketindo Selaras yang tak kenal nurani.
Di Morosi, industri VDNI dan OSS menjulang
Memberi upah pada ribuan buruh
Tapi nelayan kehilangan lautnya Petani kehilangan sawahnya
Tanah subur berganti debu dan api Rezeki rakyat kecil dirampas demi kepentingan modal.
Di Kendari, Awalauddin berdiri seorang diri
Melawan mafia tanah yang bersekongkol Dengan pengusaha pongah
Dengan aparat berseragam yang harusnya melindungi.
Dan itu baru segelintir Di luar sana jutaan suara bisu
Yang tak pernah sampai ke meja berita
Yang terkubur di bawah sorak-sorai kemerdekaan.
Delapan puluh tahun Indonesia merdeka
tapi siapa yang benar-benar merdeka?
Jika bumi pertiwi masih jadi ladang rampasan Jika rakyat masih jadi korban
Jika negeri ini masih ditindas Oleh wajah baru imperialisme
Neoliberalisme yang rakus Neoimperialisme yang licik.
Merdeka kita tinggal simbol
Ilusi yang dikibarkan tiap Agustus Sementara luka-luka bangsa
Tak pernah benar-benar disembuhkan.