Puisi Kemerdekaan: Ilusi 80 Tahun Indonesia Merdeka

Ilusi 80 Tahun Merdeka. Bendera berkibar, tanah dirampas, rakyat jadi penonton. Merdeka hanya slogan.

Oleh: Muhammad Akbar Ali
(Penulis adalah pembaca buku, penulis, dan penikmat kopi)

PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI-Delapan puluh tahun bendera dikibarkan
Merah darah, putih tulang                                 Gema pekik “Merdeka!” menggaung di udara
Namun tanah air, tubuh ibu pertiwi               Masih digerogoti luka-luka lama
Dengan wajah penjajah yang berbeda rupa.

Penjajahan tak lagi datang dengan senapan     Tak lagi dengan serdadu asing bersepatu lars
Ia menyamar dalam tanda tangan kontrak   Dalam lisensi tambang, dalam skema utang
Dalam pasar bebas yang membelenggu             Dan elit-elit negeri yang rela jadi perpanjangan tangan.

Di Konawe Utara, tanah terbelah
Tambang ilegal bak pesta tanpa hukum         Setiap orang bisa jadi tuan
Asal punya beking di belakang.

Di Konawe Selatan, Angata menangis           Warga mempertahankan tanah warisan leluhur
Namun dirampas atas nama investasi               Atas nama PT Marketindo Selaras yang tak kenal nurani.

Di Morosi, industri VDNI dan OSS menjulang
Memberi upah pada ribuan buruh
Tapi nelayan kehilangan lautnya                     Petani kehilangan sawahnya
Tanah subur berganti debu dan api               Rezeki rakyat kecil dirampas demi kepentingan modal.

Di Kendari, Awalauddin berdiri seorang diri
Melawan mafia tanah yang bersekongkol   Dengan pengusaha pongah
Dengan aparat berseragam yang harusnya melindungi.

Dan itu baru segelintir                                             Di luar sana jutaan suara bisu
Yang tak pernah sampai ke meja berita
Yang terkubur di bawah sorak-sorai kemerdekaan.

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka
tapi siapa yang benar-benar merdeka?

Jika bumi pertiwi masih jadi ladang rampasan   Jika rakyat masih jadi korban
Jika negeri ini masih ditindas                             Oleh wajah baru imperialisme
Neoliberalisme yang rakus             Neoimperialisme yang licik.

Merdeka kita tinggal simbol
Ilusi yang dikibarkan tiap Agustus         Sementara luka-luka bangsa
Tak pernah benar-benar disembuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
error: Content is protected !!