Maut Ramadansyah di Laut Tanjung Tiram

Foto: Ramadansyah ditemukan meninggal dunia oleh Tim Sar, setelah sebelumnya tenggelam saat memancing ikan.

PIKIRANLOKAL.COM.KENDARI—Di bawah langit yang berawan pada Minggu pagi, 13 Juli 2025, pukul 09.35 Wita, pesisir Desa Tanjung Tiram di Moramo Utara memanggil kembali satu nama yang semalam hilang dalam bisu gelombang. Ramadansyah (40), seorang warga sederhana dari Kelurahan Watubangga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, akhirnya ditemukan dalam dekapan laut yang diam, 45 meter ke arah timur laut dari titik tenggelamnya.

Operasi pencarian yang sejak Sabtu malam, menyulam harap dalam lelah. Operasi SAR hari kedua, yang digerakkan dari rasa kemanusiaan dan panggilan jiwa, membawa hasil yang tak diharapkan. Namun menyudahi penantian penuh gundah.

“Ramadansyah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, di kedalaman 8 meter,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kendari, Amiruddin A.S.

Jenazah dievakuasi perlahan. Dengan hati-hati dan penuh penghormatan. Tak ada sirine, hanya gumam doa yang lirih dari para penyelamat dan keluarga yang menanti dalam pasrah. Ketika tubuh Ramadansyah diangkat dari pelukan lautan, ombak kecil memecah seakan turut mengantar kepergiannya.

Foto: Personel Basarnas Kendari saat menyerahkan jenazah almarhum Ramadhansyah kepada pihak keluarga, Minggu (13/7/2025).

Sebilah tombak dan seberkas cahaya dari senternya yang ditemukan sebelumnya, menjadi saksi bisu betapa laut kadang tak sekadar ladang rezeki, tetapi juga gerbang pulang yang sunyi.

“Dengan ditemukannya korban, maka operasi SAR resmi kami tutup. Dan seluruh unsur yang terlibat kami kembalikan ke kesatuannya masing-masing,” ucap Amiruddin.

Kronologis

Langit tetap berawan. Angin bertiup pelan, sembilan kilometer per jam dari tenggara. Gelombang tak lebih dari 1,25 meter—tenang untuk ukuran laut, namun cukup untuk menyimpan misteri, cukup untuk menelan jerit yang hanya didengar sahabat di kejauhan.

Hari Sabtu, 12 Juli 2025, sekitar pukul 19.00 Wita, Ramadansyah turun ke laut seperti biasa. Menjinjing tombaknya, menyalakan senter, dan membawa harapan kecil untuk esok pagi. Ia tak tahu, bahwa malam itu, laut menyimpan takdir lain.

Adalah rekan Ramadansyah yang pertama kali mendengar suara minta tolong itu. Suara yang tak sempat disambut, hanya diingat dalam denting waktu yang tergesa.

Pencarian pun dimulai sejak kabar itu diterima. Dan hari Minggu menjadi saksi bagaimana solidaritas manusia mengalahkan lelah. Unsur-unsur pencarian—Rescuer KPP Kendari, ABK KN SAR Pacitan, Polairud Polda Sultra, Babinsa dan Polsek Moramo Utara, Kartana, UKM SAR UHO, IEA Sultra, DDV Sultra, KSR PMI UHO, hingga masyarakat dan keluarga korban—semua turun, menyatu dalam tekad, menolak menyerah pada gelap.

Kini, laut telah menjawab. Meskipun dengan duka, meskipun dengan keheningan. Di rumah duka, tangis menyambutnya, tapi juga rasa syukur—karena tubuh itu kembali, karena jiwa itu bisa diantar dengan layak.

Amiruddin dan tim SAR tak hanya mengemban tugas negara, mereka telah menjadi pelita dalam gelap, penuntun dalam kehilangan. Dalam setiap operasi seperti ini, mereka bukan sekadar penyelamat. Mereka adalah jembatan antara harap dan kenyataan, antara laut dan darat, antara kehilangan dan perpisahan yang tak menyisakan tanda tanya.

Dan begitulah, laut menulis puisi sunyinya. Ramadansyah adalah satu dari banyak nama yang dijemput kembali oleh laut kepada manusia. Dengan hormat, dengan cinta, dan dengan air mata. (ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
error: Content is protected !!