Asmadin Menyemai Generasi di Tengah Tantangan Global

PIKIRANLOKAL.COM, KONAWE UTARA-Gelombang perubahan zaman yang begitu deras, di mana teknologi merasuk hingga ke sela-sela kehidupan paling sunyi, ada satu tekad yang tumbuh pelan tapi pasti di sudut utara jazirah Sulawesi Tenggara.

Sebuah tekad dari seorang anak negeri yang kini memanggul tanggung jawab besar sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Konawe Utara, Asmadin, S.Pd., M.M.

Ia tak hanya membawa beban administrasi dan angka-angka, tetapi juga menggenggam harapan ribuan anak-anak pelosok yang bercita-cita menaklukkan dunia lewat ilmu.

Asmadin tahu betul, pendidikan bukan sekadar ruang kelas dengan papan tulis dan meja kayu. Pendidikan adalah cahaya—yang seharusnya memancar bukan hanya dari sekolah, tetapi dari rumah, jalan-jalan desa, hingga bisikan lembut para leluhur yang tertanam dalam adat dan budaya lokal.

Ia percaya, untuk menjadikan Konawe Utara sebagai pemilik Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi di Sulawesi Tenggara, maka sistem pendidikan harus direvolusi, bukan dengan meninggalkan akar budaya, melainkan dengan menjadikannya pijakan utama untuk melompat lebih tinggi.

Dalam kepemimpinannya, Asmadin menenun tiga pilar utama sebagai fondasi sistem pendidikan Konawe Utara.

Pertama, peningkatan kualitas guru. Karena bagi Asmadin, guru bukan hanya pengajar, tetapi pelukis masa depan anak-anak.

“Kalau gurunya hebat, maka generasi juga akan hebat,” katanya kepada Pikiran Lokal, Sabtu (12/7/2025).

Kedua, penyediaan sarana dan prasarana yang layak. Sebab mustahil membangun istana ilmu di atas puing-puing keterbatasan. Sekolah-sekolah yang dulu reyot satu per satu diperbaiki, diganti atapnya, dipermodern interiornya, hingga layak disebut taman ilmu.

Ketiga, membentuk lingkungan belajar yang hidup di luar ruang kelas. Menciptakan ruang-ruang diskusi di tengah masyarakat, menghidupkan kembali cerita rakyat, cerita rakyat Tolaki, dan menjadikan budaya sebagai kurikulum tersirat dalam kehidupan sosial.

“Inilah yang kami sebut sebagai ekosistem belajar semesta,” ucapnya lirih, tapi dalam.

“Belajar tidak berhenti saat lonceng sekolah berbunyi. Anak-anak kita harus tumbuh dalam ekosistem yang merangsang rasa ingin tahu mereka, di rumah, di ladang, bahkan di kolong rumah panggung yang penuh cerita,” tambah Asmadin.

Visi besar ini sejatinya bukan hanya milik Asmadin semata. Ia sejalan dengan mimpi besar Bupati Konawe Utara H. Ikbar, S.H., M.H., dan Wakil Bupati H. Abuhaera, S.Sos., M.Si., yang mencanangkan “Konawe Utara Sebagai Rumah Bersama yang Semakin Maju dan Sejahtera. Sebuah rumah tempat semua anak mendapatkan hak yang sama untuk belajar dan bertumbuh.

Kadis Dikbud Konut Asmadin (Kanan) bersama Bupati Konut H. Ikbar (Tengah) dan Kepala Bapperida Konut La Ode Muhaimin (Kiri) saat berdiskusi lepas di alun-alun Konasara, Wanggudu, Konawe Utara.

Asmadin sadar, untuk mewujudkan cita-cita itu, tantangan terbesar bukan hanya minimnya fasilitas atau terbatasnya anggaran. Tantangan terberat justru datang dari arus globalisasi dan teknologi yang kerap membawa kabar buruk: distraksi, hedonisme, dan informasi tanpa makna.

Maka ia merumuskan strategi unik, menggabungkan nilai adat dan budaya dalam sistem pendidikan, sebagai pagar nilai yang mengawal generasi muda dari kehampaan digital.

“Saya ingin pendidikan di Konawe Utara bukan hanya mencerdaskan otak, tapi juga menyejukkan jiwa,” katanya.

Aroma perubahan mulai tercium di seantero Konawe Utara. Anak-anak tak lagi malu berbahasa daerah, tak lagi menganggap budaya sebagai masa lalu yang usang. Mereka menyatu dengan teknologi, tapi tetap berpijak pada tanah warisan leluhur. Sekolah-sekolah mulai menjadi oase pengetahuan, dan guru-guru pun diberi pelatihan berkelanjutan untuk mampu mengikuti zaman tanpa kehilangan jati diri.

Apa yang dibangun Asmadin bukan hanya demi statistik atau laporan tahunan. Ia tengah membangun jiwa daerah, membentuk generasi Konawe Utara yang bukan sekadar pandai, tetapi berkarakter—sebuah fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045.

Ia tahu betul bahwa visi besar Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tentang SDM unggul, kemandirian bangsa, dan kemajuan daerah, tak akan terwujud tanpa pendidikan yang kokoh dan inklusif.

Maka dari itu, Asmadin bukan hanya seorang Kepala Dinas. Ia adalah arsitek masa depan, yang menulis peta perubahan dengan tinta kearifan dan pena semangat zaman.

Dan dari Konawe Utara, negeri yang dulu mungkin hanya disebut sepintas dalam peta Sulawesi Tenggara, kini mulai memancarkan cahaya kecil yang lambat-laun akan menerangi Indonesia—dengan daya saing tinggi, IPM nomor satu, dan generasi yang siap menyambut masa depan dengan kepala tegak dan hati penuh cinta akan tanah kelahirannya.(ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
error: Content is protected !!