Oleh: Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si*
“Allahummaghfir lahuu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil maa-i wats-tsalji wal-baradi, wa naqqihi minal-khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul-abyadhu minad-danasi. Wa abdilhu daaran khairan min daarihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wa qihi fitnatal-qabri wa ‘adzaaban-naar.”
Selamat jalan, Anregurutta. Terima kasih atas ilmu dan keteladananmu. Engkau hidup dalam setiap doa dan jejak kebaikan.
Kenangan tak akan lenyap meski raga telah tiada, nasihat dan warisan ilmu akan terus tumbuh dalam jiwa murid-muridmu.
Saya bukan santri pondoknya. Tidak pernah duduk dalam lingkaran pengajiannya. Namun siapa yang sanggup melupakan pesan seorang guru yang menembus tempat, menembus relung hati, meski hanya sejenak berjumpa?
Tiga puluh tahun silam, ketika jiwa muda ini masih bergolak mencari arah, datanglah sebuah kalimat yang mengubah segalanya:
*”Camkan baik-baik, nak… Sumur tidak pernah mencari ember, tapi ember yang mencari sumur. Belajarlah dengan baik, hormati gurumu. Kamu pasti akan mendapatkan jalan menuju cita-citamu.”*
Kalimat itu meluncur dari beliau—Anregurutta KH. Muhammad Arif Marzuki Hasan. Sebuah wasiat yang kini saya pahami sebagai kompas hidup tentang ilmu, adab, dan makna sejati menuntut ridha Ilahi.

Anregurutta bukan sekadar pengajar. Beliau adalah cerminan keikhlasan yang berjalan di muka bumi. Sosok yang tak pernah lelah menyuarakan kebenaran, kemanusiaan, persaudaraan, dan keistiqamahan dalam setiap tarikan napasnya. Saya mengenal beliau melalui para ulama besar seperti KH. Arsyad Pana dan kader-kader terbaik Pelajar Islam Indonesia yang menjadi saksi keagungan akhlaknya.
Tak terbilang berapa kali telinga ini mendengar wejangan beliau. Tak terbilang pula mata ini menyaksikan keteguhan dan kesederhanaannya dalam mendidik umat. Seluruh hidupnya terpersembah untuk dakwah dan pendidikan—tak ada yang dikejarnya selain ridha Allah dan kebermanfaatan bagi sesama.
Dua pekan lalu, mimpi mempertemukan saya dengan beliau. Wajahnya teduh seperti sedia kala. Saya berencana mampir ke Pondok Pesantren Darul Istiqamah di Maccopa, Maros—pondok yang beliau bangun dan rawat dengan segenap cinta. Lokasinya dekat bandara Makassar, mudah dijangkau. Namun Allah lebih dulu memanggil hamba-Nya. Rencana saya kalah oleh takdir-Nya yang Maha Bijaksana.
Berita kepergian beliau saya terima hari ini dari seorang muridnya—padahal beliau telah berpulang beberapa hari silam, di tengah malam, di waktu yang Allah janjikan bagi para kekasih-Nya yang bangkit menunaikan sholat malam. Bukan drama, bukan rekaan. Ini realitas tentang seorang alim yang hidup mulia dan berpulang dalam kemuliaan.
Anregurutta KH. Muhammad Arif Marzuki Hasan, selamat jalan. Doa mengiringi kepergianmu. Semoga Allah menempatkanmu di taman terindah di sisi-Nya—surga, tempat para guru sejati yang tak pernah lelah membimbing langkah kami yang penuh salah dan khilaf.
Jasadmu telah tiada, namun pesan-pesanmu akan abadi dalam ingatan. Dan saya—seorang murid dari kejauhan—akan terus mengenangmu sebagai sumur ilmu yang jernih, dalam, dan tak pernah pilih kasih pada siapa pun yang hendak menimba darimu.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
*Penulis adalah Ketua Umum Corps Muballigh Pelajar (CMP) PII Wilayah Sulawesi Selatan 1991–1994, Ketua Umum DPP BKPRMI 2006–2009, dan Alumni UIN (IAIN) Alauddin Fakultas Dakwah Makassar