Oleh: Muhamad Akbar Ali (Jurnalis Politik Sulawesi Tenggara)
PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI-Politik selalu menyukai orang yang berjalan pelan, tetapi tiba lebih dulu. La Ode Darwin tampaknya memahami itu. Ia tidak berlari. Ia juga tidak banyak berteriak. Namun, setiap kali publik menoleh, ada saja satu kursi baru yang telah ia duduki.
Mula-mula ia menjadi Bupati Muna Barat. Sebuah kemenangan yang nyaris tanpa luka. Pilkada 2024 mencatat namanya menang telak atas kotak kosong. Sebuah kemenangan yang tidak sekadar administratif, tetapi psikologis. Rakyat seperti sedang berkata, silakan lanjutkan.
Lalu roda berputar lebih cepat.
Pada 2 November 2025, Darwin dipercaya secara aklamasi memimpin Partai Golkar Sulawesi Tenggara periode 2025–2030. Golkar bukan sekadar partai. Ia adalah salah satu rumah politik paling tua di republik ini. Mesin yang berkali-kali terbukti mampu melahirkan kepala daerah, gubernur hingga Presiden.
Belum genap setahun, Senin, 18 Mei 2026, Darwin kembali dipilih secara aklamasi sebagai Ketua Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara. Dua aklamasi dalam waktu berdekatan. Politik dan budaya. Partai dan paguyuban. Kekuasaan dan identitas. Jarang ada yang berhasil menggenggam keduanya sekaligus.
Saya teringat satu nama. Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka. Pada 30 Maret 2022, ia memimpin Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Sulawesi Tenggara. Setahun kemudian, 15 Juli 2023, ia dilantik menjadi Ketua DPW PPP Sulawesi Tenggara. Ketika memimpin KKSS, Andi Sumangerukka tidak sekadar menjadi ketua seremonial.
Ia mengonsolidasikan organisasi hingga ke 17 kabupaten dan kota. Ia meminta pendataan warga Bugis secara rinci. Ia merawat jejaring sosial yang selama puluhan tahun menjadi kekuatan budaya masyarakat perantauan.
Dua tahun kemudian, 2024, ia maju sebagai calon Gubernur Sulawesi Tenggara. Hasilnya? 775.183 suara. Sekitar 52,39 persen suara sah. Ia menang. Sulit mengatakan semua itu kebetulan.
Budaya sering kali menjadi ruang pertama membangun kepercayaan. Politik kemudian datang memanen kepercayaan yang telah tumbuh.
Samuel P. Huntington pernah menulis bahwa institusi politik akan kokoh jika bertumpu pada jaringan sosial yang kuat. Robert Putnam juga menunjukkan bagaimana modal sosial menjadi energi bagi keberhasilan politik. Pierre Bourdieu bahkan menyebut modal budaya dapat berubah menjadi modal politik ketika memperoleh legitimasi publik.
Teori-teori itu seperti menemukan cerminnya dalam perjalanan sejumlah tokoh lokal. Dan kini, nama Darwin mulai memasuki lorong yang sama.
Minggu, 19 Juli 2026. Eks MTQ Kendari. Sekitar 20 ribu warga Muna diproyeksikan berkumpul dalam Silaturahmi Akbar KKMM Sulawesi Tenggara. Bagi sebagian orang, itu hanya acara budaya. Bagi seorang politisi, kerumunan tidak pernah sekadar kerumunan. Ia adalah energi. Ia adalah jaringan. Ia adalah komunikasi yang tidak membutuhkan baliho.
Puluhan ribu orang yang datang akan melihat satu panggung. Dan di panggung itu hanya ada satu nahkoda. La Ode Darwin. Lalu muncul pertanyaan yang selalu lahir setiap kali politik memperlihatkan langkah-langkahnya. Untuk apa semua ini?
Jika hanya ingin mempertahankan kursi Bupati Muna Barat pada periode berikutnya, sesungguhnya Darwin tidak perlu memikul beban sebesar itu. Basis politiknya sudah kokoh. Kemenangan melawan kotak kosong menunjukkan legitimasi yang sangat kuat.
Ia tidak membutuhkan panggung provinsi hanya untuk mempertahankan rumah yang sudah ia kuasai. Maka dugaan mulai berkembang.
Apakah ia sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar?
Ingatan saya melompat pada L.M. Rajiun Tumada. Menjelang Pilkada Muna 2020, ia pernah mengatakan kepada saya bahwa langkahnya maju di Kabupaten Muna bukan sekadar soal menjadi bupati. Ia ingin menyatukan simpul-simpul politik masyarakat Muna Raya.
Logikanya sederhana. Jika Muna Barat dan Muna dapat dipersatukan secara politik, maka jalan menuju Pilgub Sultra akan lebih terbuka. Rajiun bahkan mengingatkan bahwa sudah lama masyarakat Muna tidak lagi memiliki gubernur sejak era La Ode Kaimuddin.
Strategi itu berani. Namun politik tidak selalu memberi hadiah kepada keberanian. Rajiun kalah. Ia tidak maju pada Pilgub 2024. Ketika kembali bertarung di Muna, ia kembali mengalami kekalahan. Politik memang tidak pernah menjanjikan garis lurus. Ia lebih sering menyerupai ombak.
Darwin tentu memahami risiko itu. Karena setiap langkah yang lebih tinggi selalu diiringi jurang yang lebih dalam. Namun justru di situlah menariknya membaca politik. Politik bukan hanya tentang jabatan yang sedang diduduki. Politik adalah tentang jabatan yang belum diumumkan.
Jika membaca peta hari ini, peluang Darwin menuju Pilgub Sultra 2031 memang terbuka.
Sebagai Ketua Golkar Sulawesi Tenggara, ia mengendalikan salah satu partai paling kompetitif di daerah ini yang menemparkan 6 kadernya di DPRD Provinsi.
Sebagai Ketua KKMM, ia memimpin organisasi sosial yang memiliki jejaring luas di kalangan masyarakat Muna. Sebagai Bupati Muna Barat, ia memiliki panggung pemerintahan. Tiga simpul itu saling menguatkan.
Partai memberi kendaraan. Organisasi memberi basis sosial. Jabatan memberi panggung kebijakan. Kombinasi seperti ini tidak dimiliki banyak politisi.
Seorang elite dari “gedung putih” Sulawesi Tenggara yang saya temui, pernah berbisik bahwa sejumlah bupati mulai bergerilya mencari posisi sebagai calon wakil gubernur pada kontestasi mendatang. Nama Darwin disebut dalam percakapan itu. Masuk akal. Ia memiliki basis kepulauan.
Ia memiliki kekuatan politik. Ia memiliki jejaring sosial. Dan tentu memiliki sumber daya yang tidak kecil. Apakah ia akan memilih jalan sebagai calon wakil? Atau justru menjadi penantang utama? Belum ada yang tahu.
Yang pasti, menumbangkan petahana seperti Andi Sumangerukka bukan pekerjaan sederhana.
Petahana bukan hanya memiliki kekuasaan administratif. Ia juga memiliki elektabilitas, jaringan birokrasi, pengalaman politik, serta modal sosial yang terus bertumbuh.
Maka jika Darwin memilih menjadi nomor satu, jalan itu adalah jalan seorang pendekar. Jalan yang penuh risiko. Tetapi sejarah memang sering ditulis oleh mereka yang berani mengambil risiko.
Strategi Darwin mengingatkan saya pada Barack Obama ketika memenangkan Pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2008.
Obama memahami bahwa kemenangan tidak lahir pada hari pencoblosan. Ia dibangun bertahun-tahun sebelumnya. Melalui relawan. Melalui akar rumput. Melalui organisasi. Melalui komunikasi yang konsisten. Dan melalui kemampuan membuat masyarakat merasa menjadi bagian dari sebuah perjalanan.
Darwin tampaknya sedang merangkai simpul-simpul itu. Mungkin belum sempurna. Mungkin juga masih terlalu dini. Namun politik memang selalu dimulai jauh sebelum pemilu dimulai.
Barangkali ada yang berkata, mengapa membahas Pilgub 2031 sekarang? Bukankah masih lama? Justru karena politik tidak pernah bekerja berdasarkan kalender.
Politik bekerja berdasarkan momentum. Momentum tidak lahir mendadak. Ia dipersiapkan. Dipupuk. Dirawat. Lalu dipanen pada saat yang tepat.
Seperti pepatah Tiongkok yang pernah dikutip Lao Tzu, perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan satu langkah.
Dan boleh jadi, langkah itu sedang diambil La Ode Darwin hari-hari ini. Entah menuju kursi wakil gubernur. Entah menuju kursi gubernur.
Atau mungkin hanya sedang memperkuat fondasi politiknya. Waktu yang akan menjadi hakim. Politik hanya sedang membuka bab pertamanya.