SPKS dan BPDP Dorong Hilirisasi Sawit di Kampus, Mahasiswa Disiapkan Menjadi Pelaku UMKM Inovatif

PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI – Serikat Petani Kelapa Sawit Indonesia (SPKS) terus memperkuat komitmennya dalam mendorong transformasi ekonomi petani melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis hilirisasi kelapa sawit. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop UMKM Sawit: Menumbuhkan Ekosistem Bisnis Mahasiswa dari Hilirisasi Turunan Kelapa Sawit yang digelar di Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), Kamis (2/7).

Kegiatan yang mengusung tema “Edukasi Manfaat Komoditas Perkebunan untuk Mahasiswa dan Masyarakat Umum” itu menjadi bagian dari gerakan nasional Sawit Goes to Campus yang diinisiasi SPKS. Program tersebut bertujuan memperluas literasi mengenai manfaat komoditas perkebunan sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang mampu menciptakan inovasi dan nilai tambah dari sektor kelapa sawit.

Ketua Umum SPKS, Sabarudin, SE., ME., menegaskan bahwa selama ini masyarakat masih memandang kelapa sawit sebatas penghasil minyak goreng atau komoditas ekspor. Padahal, sawit memiliki potensi besar menghasilkan ratusan produk turunan bernilai ekonomi tinggi yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha di berbagai sektor.

“Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap komoditas perkebunan. Sawit bukan hanya berbicara tentang kebun dan panen, tetapi juga inovasi, kewirausahaan, teknologi, dan masa depan ekonomi masyarakat. Petani harus menjadi pelaku utama dalam rantai nilai industri sawit, bukan hanya sebagai pemasok bahan baku,” ujarnya.

Menurut Sabarudin, tantangan terbesar pembangunan perkebunan saat ini bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membangun pemahaman generasi muda mengenai besarnya potensi ekonomi sektor perkebunan. Karena itu, perguruan tinggi dipilih sebagai mitra strategis untuk menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

Melalui program Sawit Goes to Campus, SPKS ingin memperkenalkan kepada mahasiswa bahwa sektor perkebunan merupakan ruang lahirnya inovasi bisnis, pengembangan teknologi, industri kreatif, hingga kewirausahaan berbasis hilirisasi.

“Mahasiswa adalah agen perubahan. Mereka memiliki kreativitas, kemampuan riset, dan penguasaan teknologi digital. Jika potensi itu dipadukan dengan kekayaan sumber daya perkebunan Indonesia, maka akan lahir wirausaha muda yang mampu menciptakan produk-produk inovatif sekaligus memperkuat ekonomi petani,” katanya.

Sementara itu, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan bahwa pembangunan sumber daya manusia menjadi salah satu prioritas dalam mendukung keberlanjutan industri sawit nasional.

“Kami tidak hanya membangun kebun sawit yang produktif, tetapi juga membangun manusianya. Mahasiswa harus dipersiapkan menjadi inovator yang mampu mengembangkan produk turunan sawit sesuai kebutuhan pasar dengan memanfaatkan teknologi dan kreativitas,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Tenggara, Ihlas Landu. Menurutnya, Sulawesi Tenggara memiliki potensi besar mengembangkan industri hilir berbasis kelapa sawit yang mampu meningkatkan nilai tambah dibanding hanya mengandalkan produksi tandan buah segar.

“Perkebunan sawit telah memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan penciptaan lapangan kerja. Tantangan berikutnya adalah membangun industri hilir yang melibatkan petani, koperasi, UMKM, dan perguruan tinggi sehingga manfaat ekonominya semakin luas dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Unsultra, La Oge, S.P., M.P., menilai kolaborasi dengan SPKS menjadi langkah strategis dalam mendekatkan hasil riset kampus dengan kebutuhan masyarakat.

“Perguruan tinggi harus menjadi pusat inovasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan daerah. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga melihat bagaimana ilmu pengetahuan diterapkan untuk menghasilkan produk turunan sawit yang bernilai tambah dan memiliki prospek bisnis,” katanya.

Dukungan juga datang dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulawesi Tenggara. Kepala Bagian Usaha Kecil, Laode Pali Awaludin, menilai keberhasilan hilirisasi sawit sangat bergantung pada tumbuhnya UMKM yang kuat, didukung akses pembiayaan, serta kemampuan membaca peluang pasar.

“Generasi muda harus berani melihat komoditas perkebunan sebagai peluang bisnis. Pemerintah telah menyediakan berbagai program pembiayaan dan pendampingan. Tinggal bagaimana inovasi dan semangat berwirausaha terus ditumbuhkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Balai POM di Kendari, Syahriani Zain, S.Farm., Apt., mengingatkan bahwa setiap produk turunan sawit harus memenuhi standar keamanan pangan, legalitas, sertifikasi halal, serta didukung kemasan dan strategi pemasaran yang baik agar mampu bersaing di pasar.

Workshop tersebut tidak hanya menghadirkan diskusi mengenai peluang hilirisasi sawit, tetapi juga praktik langsung pembuatan produk turunan sawit sebagai bagian dari pembelajaran bagi mahasiswa.

Ke depan, SPKS akan memperluas program Sawit Goes to Campus ke berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Program tersebut akan difokuskan pada edukasi komoditas perkebunan, penguatan koperasi petani, pengembangan inkubasi bisnis mahasiswa, riset terapan, hingga pendampingan UMKM berbasis produk turunan sawit.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, koperasi, dan pelaku usaha, SPKS berharap lahir generasi muda yang mampu mengubah kekayaan komoditas perkebunan menjadi inovasi, kewirausahaan, dan sumber kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.(rls/ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
error: Content is protected !!