Hendrawan Anak Pasar Sejuta Inovasi

Foto: Hendrawan memeluk dos sembako seperti memeluk masa kecilnya. Di sinilah ia lahir, tumbuh. Dari pasar menapaki dunia usaha, meniti kemapanan. Kini ia kembali. Dalam peluh dan tumpukan beras, ada janji untuk menghidupkan pasar yang pernah membesarkannya.

Dari lorong becek ke ruang gagasan, Hendrawan kembali ke pasar bukan sekadar bernostalgia, tapi menyalakan api inovasi di jantung ekonomi rakyat.

PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI-Lahir dari keluarga pedagang kecil, Hendrawan Sumus Gia tahu betul aroma keringat pasar. Kini, setelah menjadi pengusaha mapan, ia kembali ke tumpuan. Tanpa mengejar gaji, ia memikul tekad, memajukan pasar Kendari, agar menjadi pusat ekonomi rakyat yang modern, meneduhkan, dan membanggakan. Duduk sebagai Dewan Pengawas, ia juga ingin menjadikan pasar seperti taman. Bersih, nyaman, dan kembali hidup di tengah gempuran mal. Hendrawan dengan sejuta inovasi.

Di Aula Samaturu, Balai Kota Kendari, Rabu sore 30 Juli 2025, seorang lelaki yang lahir dan besar dari denyut nadi pasar diangkat sumpah. Namanya Hendrawan Sumus Gia, S.M. Bagi sebagian orang ia adalah pengusaha mapan. Pemilik Toko Nana Jaya yang tak lagi pusing soal rupiah. Tapi bagi dirinya sendiri, ia tetap bocah kecil yang dulu berlarian di lorong-lorong sempit, di antara timbangan besi, ikan asin, dan sayuran yang berembun.

Pasar bukan sekadar bangunan baginya. Pasar adalah masa kecil, sekolah kehidupan, ruang yang mengajarkan sabar, cerdik, dan kerasnya perjuangan. Itulah sebabnya, saat ia dilantik sebagai Dewan Pengawas Perusda Pasar Kota Kendari, ia datang bukan untuk mencari gaji. Ia datang untuk membalas budi.

Hendrawan, (keempat dari kanan), berdiri tenang. Di balik senyum resminya, ada napas pasar yang ikut dilantik bersamanya.

Kini tugasnya tidak main-main. Menghidupkan kembali denyut pasar yang tengah kalah pamor dari mal dan swalayan berlampu terang. Ia tahu, zaman telah berubah. Orang-orang lebih suka udara wangi pendingin ruangan, ketimbang aroma tanah basah bercampur keringat. Tapi di balik hiruk pikuk modernitas, ia percaya pasar tetap menyimpan jiwa kota.

“Pasar harus jadi tempat yang nyaman,” katanya pelan.

Sederhana, tapi mengandung banyak mimpi. Ia membayangkan pasar Kota Kendari yang bersih, teduh, nyaman. Bukan sekadar bebas sampah, tapi juga bebas dari wajah murung dan sikap masa bodoh. Pasar yang mengundang orang datang, bukan karena harga murah semata, tetapi karena atmosfernya yang membuat betah.

Hendrawan tahu, pekerjaan ini bukan sulap. Ia mengajak para pedagang untuk ikut serta. Produk yang segar, sikap ramah, kualitas yang tidak kalah dari mal. Ia ingin membangun sinergi, bukan sekadar membangun kios. Karena pasar adalah pertemuan ribuan orang. Tempat ekonomi bertukar napas, dan peradaban kota menakar dirinya sendiri.

Diapit para pedagang pasar Kota Kendari, Hendrawan seolah pulang ke rumah yang membesarkannya.

Ia menatap jauh ke depan. Kota Kendari yang pasarnya sekuat Beringharjo di Yogyakarta, sehidup Klewer di Solo, selegendaris Tanah Abang di Jakarta. Ia ingin membuktikan, pasar bisa modern tanpa kehilangan wajah rakyatnya.

Dan ia tahu benar, jika pasar hidup kembali, PAD Kota Kendari bukan sekadar angka, melainkan kehidupan yang berdenyut.

Di lorong-lorong ingatannya, ia mendengar lagi suara masa kecilnya. Langkah kecil di lantai pasar, bau kayu basah, dan tawa orang tuanya. Dari sanalah ia pulang, dan ke sanalah ia kini kembali, dengan keyakinan pasar adalah jantung kota. Selama jantung itu berdegup, Kendari akan hidup.(ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
error: Content is protected !!