Asmadin Ultimatum PT Daka: Angkat Kaki, Pemda Bakal Bangun SDN 3 Lasolo Kepulauan

Karikatur: Suasana menggambarkan Kadis Dikbud Konut Asmadin, saat ultimatum PT Daka Group.

PIKIRANLOKAL.COM, KONAWE UTARA-Suasana ruang Aula Sekretariat DPRD Konawe Utara memanas, Senin siang, 21 Juli 2025. Bukan karena suhu udara, melainkan akibat suara lantang Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Konawe Utara, Asmadin, yang tak lagi bisa menahan kesabarannya terhadap PT Daka Group.

“Kalau perusahaan tidak segera relokasi sekolah, Pemda akan bangun sendiri dan PT Daka harus keluar dari Boedingi!” tegas Asmadin, sambil mengepalkan tangan ke meja forum.

Ancaman itu dilontarkan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi III DPRD, yang digelar menyikapi keluhan warga atas kerusakan SDN 3 Lasolo Kepulauan akibat aktivitas tambang.

Rapat dipimpin langsung Ketua Komisi III, Samir, didampingi Sahruddin L, Satria Baikole, Hj. Mawarny, dan Hamiria. Hadir pula Kepala Desa Boedingi Aksar, Kepala Sekolah SDN 3 Boedingi Asrifin, dan Kadir selaku Kepala Teknik Tambang (KTT) dari PT Daka Group.

Menurut Asmadin, sejak tahun 2019 pemerintah sudah memberi kesempatan mediasi. PT Daka bahkan berjanji akan membangun sekolah baru. Tapi hingga kini, janji itu tinggal janji. Di lapangan, anak-anak masih belajar berdampingan dengan bisingnya mesin tambang.

“Sekolah rusak, murid belajar terganggu, dan kita hanya disuguhi janji tanpa realisasi,” ujar Asmadin, geram.

Foto: Kadis Dikbud Konut, Asmadin, (Kiri) saat berdiskusi dengan unsur pimpinan Komisi III disela-sela RDP bersama PT Daka Group, Senin (21/7/2025).

Ketua Komisi III Samir mengingatkan bahwa tambang seharusnya hadir membawa manfaat, bukan menciptakan persoalan. “Jangan sampai keberadaan industri justru merusak sendi-sendi dasar seperti pendidikan,” katanya.

Kepala Sekolah SDN 3 Boedingi, Asrifin, ikut angkat suara. Ia menyampaikan keluhan guru dan siswa yang setiap hari harus belajar dengan kebisingan dari workshop PT Daka yang hanya sepelemparan batu dari ruang kelas. “Anak-anak sulit konsentrasi, bapak. Seringkali kami harus berhenti mengajar karena suara alat berat terlalu dekat,” unar Asrifin.

Sahruddin L mempertanyakan kesiapan desa terhadap rencana relokasi sekolah. Ia tak ingin proses pembangunan baru justru kembali mandek akibat lahan yang bermasalah.

“Kita tidak boleh lompat pagar. Semua harus jelas dulu, termasuk status tanah,” ujarnya.

Kepala Desa Boedingi, Aksar, langsung menjawab, “Tanah untuk pembangunan sekolah baru sudah siap. Itu tanggung jawab saya dan tidak ada masalah,” sahut Aksar.

Di ujung pertemuan, Kadir dari PT Daka Group akhirnya angkat suara. Ia menyatakan perusahaan serius merelokasi sekolah dan akan memulai pembangunan dengan peletakan batu pertama pada 1 Agustus 2025.

“Kami akan undang Pemkab dan DPRD saat peletakan batu pertama. Selain itu, perusahaan akan membagikan seragam lengkap kepada seluruh siswa,” kata Kadir.

Pernyataan itu langsung ditindaklanjuti oleh DPRD dengan meminta surat resmi yang dibacakan dan ditandatangani di tempat oleh perwakilan perusahaan.

Namun, bagi warga Boedingi, semua pernyataan itu tak lebih dari pengulangan cerita lama. Janji yang entah kapan ditepati.(ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
error: Content is protected !!