PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI-Di tengah gegap gempita apel gelar pasukan, lengkap dengan deretan personel berseragam rapi di bawah terik matahari pagi, Operasi Patuh Anoa 2025, menjadi panggung penegakan ketertiban berlalu lintas. Sebanyak 324 personel lintas instansi Polri, TNI, Dishub, hingga Satpol PP, bersatu di Lapangan Mapolda Sultra, Senin 14 Juli lalu.
Seminggu berselang, keributan knalpot brong dan deru mesin liar masih nyaring terdengar di jantung Kota Kendari. Di kawasan Eks MTQ Kendari, tepatnya di ruas Jalan Drs. H. Abdullah Silondae, remaja-remaja tanggung tanpa helm, tanpa pelat nomor, tanpa nalar keselamatan, bebas melaju bak ajang MotoGP liar.
Aksi ugal-ugalan ini bahkan berlangsung hingga dini hari pada akhir pekan, 19 dan 20 Juli 2025. Di depan Kantor Perum Bulog Sultra hingga tikungan Kantor DPRD, suara-suara mesin motor berpacu dengan kemalasan negara menegakkan aturannya.
Fenomena balapan liar ini bukan barang baru. Tapi yang mengganjal, mengapa seolah terus berulang? Apalagi ketika Tim Gabungan yang digembar-gemborkan saat apel, justru bagai angin malam, tidak terasa, tidak terlihat. Warga menilai patroli malam tak lebih dari ritual formal.

Polisi memang sesekali tampak berkeliling, tapi ketika bergeser, arena balap liar kembali hidup. Kucing-kucingan yang melelahkan ini seperti tontonan mingguan. Dan sayangnya, aparat tak selalu hadir sebagai pemeran utama.
“Harusnya gabungan. Tapi yang kelihatan aktif hanya polisi, itu pun tidak setiap saat. TNI, Dishub, Satpol PP, ke mana?” celetuk Aris.
Tak ayal, warga mulai mempertanyakan makna dari “gabungan” dalam Operasi Patuh Anoa ini. Apakah sekadar jargon saat apel pasukan, lalu dilupakan ketika malam menjelang?
“Siang hari kelihatan sibuk. Tapi malam, jalanan kembali jadi sirkuit liar. Ini bukan operasi, ini formalitas,” kata Fandi, warga Korumba yang rumahnya tak jauh dari titik balap.
Suara knalpot bising yang menggetarkan kaca rumah, anak-anak yang terbangun kaget, dan pengendara yang terpaksa mengerem mendadak. Semua jadi bukti, operasi ini belum benar-benar menyentuh akar masalah. Bahkan, pertanyaan klasik kembali muncul, apakah penertiban ini hanya berlaku di jam kerja?
Ironisnya, kawasan Eks MTQ Kendari, tempat yang dahulu jadi simbol religius dan budaya, kini disulap jadi lintasan liar tanpa batas. Tempat ibadah yang berubah wajah menjadi trek kecepatan, dengan lampu jalan sebagai satu-satunya saksi bisu.
Operasi Patuh Anoa 2025, sejauh ini, tampak lebih sibuk memberi seremoni ketimbang solusi. Tanpa kekompakan lintas instansi, tanpa kehadiran di jam-jam rawan, dan tanpa evaluasi yang jujur. Operasi ini terancam tinggal sebagai agenda rutin tahunan. Ramai saat apel, senyap saat malam.
Warga Kendari hanya menuntut satu hal sederhana. Kehadiran nyata, bukan simbolik. Ketegasan yang merata, bukan selektif. Dan sebuah upaya kolektif yang benar-benar menjadikan lalu lintas sebagai ruang aman bagi semua. Bukan arena balap liar yang membahayakan hidup orang banyak.
Jika tidak, balapan liar tak akan pernah patuh?sekalipun operasi ini bernama “Patuh Anoa.”(ali).