PIKIRANLOKAL, KENDARI-Malam itu tak bersahabat. Angin Juli menyapu Jalan Edi Sabara dengan dingin yang menyusup sampai ke tulang. Lampu-lampu temaram dari deretan tempat hiburan malam berpendar seperti bintang malas yang nyaris padam. Di salah satu ruangan karaoke, suara tawa dan nyanyian bercampur dengan gemerlap cahaya disko yang berputar tanpa tahu dosa.
Dari balik kaca yang berembun, seorang lelaki inisial MF menyaksikan reruntuhan cintanya. Tepat pukul satu dini hari, Jumat, 18 Juli 2025, ia melihat istrinya, HJR, tengah duduk mesra dengan seorang pria penambang. Duduk begitu dekat, begitu akrab, seolah tak ada anak kecil yang ditinggal di rumah. Seolah tak ada pernikahan yang mengikat.
“Di sanalah saya patah. Di balik lagu dan lampu, cinta saya dibunuh pelan-pelan,” ujar MF kepada wartawan, matanya sembab menahan getir yang tertahan terlalu lama.
Sejatinya, kecurigaan itu bukanlah tamu yang datang tiba-tiba. Sudah lama MF mencium perubahan dalam laku istrinya. Pulang larut malam tanpa alasan jelas, pergi tanpa pamit, bahkan abai pada bisik rindu anak yang belum genap sekolah. Kata-kata manis yang dulu kerap mengisi malam berubah jadi senyap. Kehangatan yang dulu seperti pagi, menjelma musim kemarau panjang dalam rumah mereka.
MF menuturkan, dari lingkaran pergaulan HJR, ia tahu bahwa sang istri kerap pergi bersama seorang perempuan berinisial DL. Bukan hanya dua perempuan dalam petualangan malam, tapi DL kerap membawa seorang pria penambang dari Kalimantan, yang belakangan diduga menjadi teman dekat HJR.
“Saya tahu mereka pernah di vila, duduk berdua, makan seperti sepasang kekasih. Saya diam, saya tahan, berharap itu hanya prasangka,” ucap MF.
Tapi kenyataan tak mau berkompromi. Nama lain kembali terdengar, seorang pria paruh baya dari Konsel, berinisial H. Kata orang-orang, H dan HJR sering terlihat di warung kopi, sesekali karaoke. Bahkan, MF mengaku menemukan bukti transfer uang senilai Rp5 juta dari pria itu ke rekening istrinya.
“Kehidupan rumah tangga saya seperti layar lebar yang diputar ulang, tapi saya bukan lagi pemeran utama,” kata MF, dengan suara nyaris putus.
Hingga malam puncak itu tiba. Seorang kawan memberi kabar bahwa HJR sedang berada di sebuah tempat karaoke di Kendari Barat. Tanpa pikir panjang, MF bersama beberapa temannya meluncur ke lokasi. Dan di sana, kenyataan menampar tanpa ampun. HJR tertangkap basah tengah bercengkerama dengan pria ketiga, seorang penambang berinisial I.
“Saya kerja siang malam. Bukan untuk kemewahan, tapi untuk anak, untuk kami. Tapi ternyata saya hanya dikorbankan demi kesenangan sesaat,” kata MF, menggeleng pelan, menahan gejolak di dada.
Namun yang membuat hati MF benar-benar luruh bukan hanya pengkhianatan. Ia menyaksikan bagaimana perempuan yang dulu ia sebut istri, justru melawan. Tak ada penyesalan. Tak ada air mata minta maaf. Yang ada hanya pembenaran.
“Kalau begitu caranya, biarlah hukum bicara. Saya sudah melapor ke Polda Sultra. Ini bukan soal ego. Ini soal kehormatan,” tegasnya.
Bagi MF, keadilan bukanlah balas dendam. Ini adalah batas terakhir dari sebuah pengorbanan yang terlalu lama dibungkam. Ia ingin hukum menelisik dugaan perzinahan yang mencederai kesucian pernikahan.
“Saya ingin orang tahu, cinta tak cukup hanya dengan janji. Tanpa setia, rumah akan runtuh,” kata MF.
Sementara itu, sebuah video tersebar di media sosial. Di dalamnya, HJR menyebut bahwa ia dan suaminya akan segera bercerai, dan ia tengah mencari saksi. “Perasaan kita mau butuh saksi, kita mau cerai mi,” katanya ringan, seolah luka itu bukan milik siapa-siapa.
Di Kendari yang masih gelisah dalam sunyi, seorang anak kecil terlelap dalam pelukan malam. Di balik pintu rumah, seorang ayah menatap langit-langit, bertanya dalam diam: bagaimana nasib cinta jika tak dijaga?
Karena cinta, seperti juga hukum, membutuhkan kejujuran sebagai pondasinya. Dan jika pondasi itu rapuh, reruntuhannya tak hanya melukai dua insan, tapi juga masa depan anak yang belum sempat tumbuh.(ali).