Ketika Lampu Merah Kota Kendari, Jadi Panggung Eksploitasi Anak

Foto: Ilustri anak-anak yang sedang mengamen di lampu merah.

PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI—Di Kota Kendari, cahaya lampu merah bukan sekadar sinyal lalu lintas. Ia adalah saksi bisu dari luka-luka sosial yang dibiarkan menganga. Di bawah sinarnya, tubuh-tubuh kecil berkeliaran, tangan-tangan mungil menengadah, dan suara serak nyanyian bocah bersaing dengan deru knalpot. Mereka bukan hantu kota. Mereka adalah anak-anak negeri, yang mestinya duduk di bangku sekolah, belajar membaca dunia, bukan menggenggam receh hasil iba.

Tapi entah di mana Dinas Sosial Kota Kendari, dan entah ke mana Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Mereka, yang dititipi tanggung jawab menata wajah kemanusiaan kota, justru membiarkan peradaban ini kehilangan wajah. Di Jalan Edi Sabara, dekat McDonald’s yang terang dan sibuk, anak-anak mengamen di sela-sela kaca mobil. Di perempatan pasar baru, Kelurahan Bende, dan simpang KFC Jalan Jenderal M.T. Haryono, realitas pahit ini berulang. Seperti lagu duka yang diputar tanpa jeda.

Fenomena gelandangan dan pengemis kini bukan sekadar gangguan estetika di Kota Kendari. Ia adalah cermin dari kegagalan sistem. Dan ironisnya, dari balik wajah anak-anak yang letih itu, sering muncul sosok-sosok ibu menggendong balita, menjajakan iba sebagai komoditas terakhir. Bahkan para lansia pun ikut menggantungkan harapan terakhir mereka di perempatan-perempatan kota ini.

Kita tak menuding rakyat kecil. Mereka bukan pelaku utama, mereka hanya korban eksploitasi keganasan zaman. Yang layak ditanya adalah mereka yang duduk di kursi-kursi dinas, di balik meja bertumpuk laporan tahunan. Apa yang telah dilakukan selain razia musiman dan pidato normatif? Di mana solusi yang menjangkau akar masalah, bukan sekadar memotong ranting?

Razia demi razia hanya memindahkan masalah. Sehari hilang, esok kembali. Tidak ada rehabilitasi, tidak ada pembinaan, tidak ada rumah perlindungan. Anak-anak itu kembali ke jalanan karena tak ada tempat yang bisa mereka tuju. Karena kota ini tidak menyediakan jaring pengaman, hanya jaring pengusir.

Padahal solusi itu ada, tinggal keseriusan yang ditagih. Bila kemiskinan adalah sebab, maka jawabannya bukan kejar-kejaran, tapi pemberdayaan. Sediakan pelatihan kerja bagi para orang tua. Berikan modal wirausaha kecil, buatkan pasar yang adil. Ajak mereka keluar dari jerat meminta-minta dengan tangan terbuka, bukan dengan todongan peraturan. Dan yang terpenting, lindungi anak-anak itu. Bukan sekadar dijauhkan dari jalan, tetapi dipastikan mereka kembali ke sekolah, kembali ke dunia bermain dan belajar, bukan bekerja.

Anak-anak itu bukan aib kota. Mereka adalah alarm. Mereka menandai bahwa ada yang salah dalam pembangunan kita. Bahwa sebuah kota belum bisa disebut layak huni jika masih membiarkan masa kecil dihabiskan di tengah asap kendaraan dan debu aspal.

Kota Kendari bisa berubah, tapi harus dimulai dari keberanian untuk mengakui bahwa sistem sosial kita masih lemah. Dinas-dinas terkait harus bangun dari tidur panjangnya, turun ke lapangan bukan hanya saat ada kamera atau laporan seremonial. Jadilah rumah yang nyata, bukan papan nama.

Jika ini berhasil, maka Kendari bukan hanya bersih dari pemandangan sedih, tapi juga akan dikenang sebagai kota yang pernah berpihak pada manusia. Dan lebih dari itu, akan ada pahala yang mengalir diam-diam, menjadi syafaat saat langkah tak lagi berpijak di bumi, melainkan menuju tempat pulang, kepada Sang Maha Pencipta.

Karena sejatinya, amal jariyah bukan hanya membangun masjid, tapi juga membebaskan anak dari jalan, dan mengembalikannya ke pelukan masa depan. (ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
error: Content is protected !!