Metamorfosis: Tentang Kafka, Gregor Samsa, dan Kita yang Pernah Menjadi Serangga

Franz Kafka, penulis buku Metamorfosis.

Penulis: Naufal Fajrin JN*

PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI—Saya tidak membaca novel Metamorfosis Kafka dalam waktu sekali duduk. Saya membacanya dalam jeda-jeda aneh: di sela menyeduh kopi yang tak pernah benar-benar habis diminum, di antara kabar WhatsApp yang tak ingin saya balas, atau saat malam sudah terlalu larut untuk tidur, tapi belum cukup dini untuk disebut pagi. Kafka menulis dalam kesenyapan yang, entah bagaimana, terasa cocok untuk jam-jam seperti itu. Sunyi, tapi menekan. Seperti dada yang penuh oleh sesuatu yang tidak bisa disebutkan namanya.

Metamorfosis atau dalam bahasa Jermannya Die Verwandlung, adalah cerita tentang Gregor Samsa, seorang pekerja yang suatu pagi bangun dan mendapati dirinya berubah menjadi seekor serangga raksasa. Kalimat pertama novel ini sudah langsung menolak kompromi: tidak ada penjelasan ilmiah, tidak ada transisi perlahan. Kafka memotong dunia seperti pisau yang mengiris mentimun—dingin dan tanpa basa-basi.

Tapi di balik absurditas biologis itu, tersembunyi sesuatu yang sangat akrab. Bahkan terlalu akrab. Gregor Samsa adalah kita—yang bangun suatu hari dan merasa bahwa tubuh ini bukan milik kita. Bahwa dunia terlalu sempit untuk dihuni, dan kita terlalu besar (atau terlalu aneh) untuk diterima.

Perubahan Gregor bukan hanya tubuh yang menjelma jadi serangga. Ia adalah metafora dari keterasingan yang tumbuh di tengah keterhubungan yang semu.

Ada sesuatu yang menyeramkan dalam cara Kafka menggambarkan respons keluarga Samsa. Mereka tidak terkejut dalam pengertian tragis. Mereka takut, jijik, dan pelan-pelan menjauh. Sang ayah tidak berusaha memahami. Ia mengusir Gregor dengan tongkat. Sang ibu pingsan berkali-kali, bukan karena sedih, tapi karena tak tahan melihat kenyataan. Dan adiknya—Grete—yang awalnya masih merawat, akhirnya juga menyerah dan berkata, “Itu bukan kakakku.”

Momen itu terasa seperti tusukan kecil di dada. Sebab kita tahu: begitulah cara dunia berjalan. Kita dihargai selama kita bisa mengabdi. Selama kita bisa menghasilkan. Selama kita bisa membuat orang lain nyaman. Tapi begitu kita berubah—entah karena sakit, depresi, trauma, atau pilihan hidup—kita mulai tidak diundang. Kita diperlakukan seperti Gregor: dikurung, dihindari, dilupakan. Kafka tidak sedang bercerita tentang serangga. Ia sedang bercerita tentang bagaimana cinta bisa lenyap ketika kita berhenti bermanfaat.

Saya teringat satu malam, ketika tubuh saya menolak bergerak karena cemas yang tak beralasan. Saya hanya berbaring menatap langit-langit. Dunia tetap sibuk. Telepon tetap berbunyi. Tapi saya, seperti Gregor, mendadak menjadi tak kasat mata. Kehadiran saya tak mengubah apa-apa, dan ketidakhadiran saya pun tidak ditanyakan. Di momen seperti itulah, saya merasa Kafka tak menulis novel, tapi memoar yang dipinjamkan kepada siapa saja yang tahu rasanya menjadi beban.

Kafka sendiri hidup dalam ketegangan yang serupa. Ia bekerja sebagai pegawai asuransi, sementara jiwanya terkunci di ruang menulis yang sunyi. Ia merasa asing dalam keluarganya, dalam dunianya, bahkan dalam tubuhnya sendiri. Tubuhnya sering sakit. Jiwanya pun rapuh. Ia menulis bukan untuk menghibur, tapi untuk menyatakan: inilah derita yang tak punya tempat dalam wacana publik. Maka tak heran, karya-karyanya sering dianggap pramodern sekaligus pascamodern, sebab ia menghidupi masa depan kegelisahan manusia sejak sebelum manusia mengenalnya.

Di tengah semua itu, Gregor tidak pernah memberontak. Ia tidak mencoba melarikan diri. Ia bahkan masih merasa bersalah karena tidak bisa berangkat kerja. Ia terus menyesuaikan diri, meski tubuhnya makin rusak dan jiwanya makin terkikis. Di situlah kegetiran Kafka: sang tokoh tidak dilawan oleh musuh, tetapi oleh cinta yang menipis dan dunia yang terlalu terbiasa membuang apa pun yang tak lagi bisa digunakan.

Dan ketika Gregor akhirnya mati, tak ada kesedihan yang membekas. Tidak ada pemakaman, tidak ada peringatan. Yang ada justru rasa lega. Keluarganya merasa bebas. Hidup kembali normal. Mereka bahkan memutuskan untuk liburan. Gregor mati bukan sebagai tragedi, tapi sebagai solusi. Sebuah akhir yang, jika dipikirkan baik-baik, lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.

Saya menutup Metamorfosis dengan dada yang pelan-pelan terasa berat. Kafka tidak menyajikan jawaban. Ia hanya menunjuk ke arah luka yang sudah lama kita tutupi. Bahwa mungkin, selama ini, kita tidak benar-benar hidup sebagai manusia. Kita hidup sebagai fungsi. Sebagai anak sulung. Sebagai pegawai. Sebagai pasangan. Sebagai rekan kerja. Dan jika suatu hari kita berubah menjadi sesuatu yang tak bisa didefinisikan, dunia tidak akan punya cukup bahasa untuk mencintai kita dalam bentuk yang baru.

Kafka menulis keasingan seperti orang menyalakan lampu di ruangan yang tak pernah kita datangi. Kita tahu ruangan itu ada. Kita bahkan sering melewatinya. Tapi baru kali ini kita melihat isinya—penuh debu, sarang laba-laba, dan suara hati yang sudah lama minta dibebaskan.

Kini, setiap kali saya terbangun dalam tubuh yang terasa asing, dalam pikiran yang penuh kekacauan, saya ingat Gregor. Saya ingat bahwa menjadi manusia bukan soal tetap sama setiap hari, tapi tentang menerima perubahan meskipun tak ada yang merayakannya. Tentang bertahan di balik pintu kamar yang terkunci, dan tetap berharap bahwa suatu hari, ada seseorang yang akan masuk tanpa takut.

Dan kalau pun tidak ada, Kafka sudah lebih dulu menuliskannya untuk kita.

*Penulis adalah alumni Sastra Inggris, Universitas Negeri Makassar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
error: Content is protected !!