PIKIRANLOKAL.COM, PRANCIS—Langit Paris yang menggantungkan harapan pada sejarah, sebuah kisah lintas samudera terpatri dalam denyut diplomasi dan kebangsaan.
Minggu, 13 Juli 2025, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Tenggara, Anton Timbang, tampak menyatu dalam iringan langkah Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, saat tiba di tanah Prancis, menjelang perayaan Hari Bastille yang megah dan simbolik yang digelar, Senin (14/7/2025).
Dari Brussels, kota diplomasi Eropa, keduanya mendarat di Bandar Udara Orly, Paris, Minggu malam waktu setempat. Mereka tak datang sebagai pelancong, tapi sebagai utusan kebanggaan bangsa, memenuhi undangan kehormatan dari Presiden Prancis Emmanuel Macron. Di Champs-Élysées, sebuah panggung dunia telah disiapkan.
Di sanalah, Indonesia untuk pertama kalinya dalam sejarah, mengirim 500 personel gabungan TNI dan Polri. Termasuk taruna muda akademi, untuk ikut berdiri sejajar dalam parade militer Hari Bastille. Sebuah momen yang bukan hanya menggugah, tetapi mengukir identitas bangsa di mata dunia.

Tampak dalam video yang tersebar seperti bening kaca, senyum dan keakraban hangat terajut dalam jabat tangan antara Prabowo dan Anton Timbang. Bukan sekadar sapaan protokoler, tetapi cermin kepercayaan dan kolaborasi. Tawa ringan mengalir, seolah tak terbendung oleh dinginnya malam Eropa. Mereka mengabadikan momen, bukan hanya dalam bentuk potret, tapi dalam ingatan sejarah yang akan dikenang.
“Alhamdulillah, perjalanan berjalan lancar. Tak kenal lelah, semua demi bangsa Indonesia dan khususnya Sulawesi Tenggara tercinta,” ucap Anton Timbang.
Sebuah pernyataan sederhana yang memuat semangat lokalitas yang tak lekang, meski dibawa menembus batas-batas benua. Parade Bastille, yang dijadwalkan berlangsung hari ini pukul 10:00 waktu setempat. Tanah Champs-Élysées akan menjadi saksi bagaimana Indonesia, dalam balutan persaudaraan internasional, menunjukkan martabat militernya.
Dan Anton Timbang, pengusaha dan tokoh Sultra, berdiri tak jauh dari sana, membawa nama Sulawesi Tenggara, di bawah bendera merah putih yang berkibar gagah.
Di Paris, di antara dentang langkah tentara dan gegap gempita genderang kehormatan, ada ruh Sulawesi Tenggara yang diam-diam ikut berjalan. Sebuah perjalanan dari Bumi Anoa ke Paris, dari kepulauan kecil ke panggung internasional, dibawa oleh tangan-tangan pemimpin yang tahu caranya mencintai dengan gagah berani.
Sultra Go Internasional
Anton Timbang, bukan sekadar Ketua Kadin Sulawesi Tenggara. Ia adalah suara yang membawa Sultra ke ruang-ruang diplomasi, ekonomi, dan kehormatan bangsa.
Pada hari ini, di tengah lawatan kenegaraan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Prancis, Anton Timbang berdiri bukan hanya sebagai pendamping, melainkan sebagai jembatan antara daerah yang ia cintai dengan dunia yang lebih luas.

Di hadapan Prabowo, tak ada nama yang lebih ia banggakan selain Sulawesi Tenggara. Ia sebut nama itu bukan sekadar wilayah administratif, tapi sebagai tanah yang melekat di nadinya, sebagai kampung halaman yang senantiasa ia bawa dalam setiap tarikan napas perjuangan.
“Di manapun saya berpijak, Sulawesi Tenggara selalu ada dalam langkah saya,” kata Anton Timbang kepada Pikiran Lokal, Senin (14/7/2025).
Anton tidak berbicara dengan sorak, tetapi dengan sikap dan dedikasi. Dalam perjamuan diplomatik, dalam perbincangan santai maupun serius dengan para pemimpin ekonomi dunia, ia selipkan nama Sultra. Ia ceritakan potensi nikel di Konawe, kekayaan laut Buton, semangat pengusaha muda di Baubau, hingga geliat UMKM yang tumbuh di pelosok Kolaka. Baginya, Sulawesi Tenggara bukan cerita masa lalu, melainkan masa depan yang pantas diperjuangkan.
Anton Timbang bukan hanya pengusaha, tapi duta batin Sulawesi Tenggara di kancah global. Di balik jas yang rapi dan sikap yang tenang, tersimpan gelora pengabdian yang tak pernah padam.
Lawatan ke Prancis itu menjadi lebih dari sekadar urusan negara. Ia adalah panggung tak kasatmata, tempat di mana cinta daerah bertemu dengan pengabdian nasional. Dan Anton Timbang, dalam diamnya yang bersahaja, telah mengibarkan nama Sulawesi Tenggara di antara angin musim panas Eropa.
Karena bagi Anton, Sulawesi Tenggara bukan hanya tempat ia tinggal, melainkan identitas yang ia bela, ia bawa, dan ia perjuangkan. Di hadapan Prabowo, di hadapan dunia, Sultra adalah jiwanya. (ali)