Penulis: Muhammad Akbar Ali (Warga Kabupaten Muna)
Di balik dinding batu purba Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, sejarah tidak hanya tertulis—ia terukir, berbisik dalam simbol-simbol purba yang telah menantang waktu selama ribuan tahun. Kala Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dijadwalkan menghadiri Festival Liangkabori 2025, sesungguhnya beliau tengah melangkah ke jantung sejarah—bukan sekadar festival, tapi panggilan peradaban.
Liangkabori bukan tempat biasa. Ia adalah gua yang menyimpan guratan jiwa nenek moyang. Dinding-dindingnya mengandung catatan kehidupan, kepercayaan, dan kebijaksanaan zaman batu yang nyaris tak tergantikan. Maka ketika Pak Menteri hadir, semestinya bukan hanya tubuh beliau yang tiba, melainkan juga nurani kebudayaan negara yang harus turut singgah dan menyimak.
Fadli Zon dikenal sebagai figur yang dekat dengan dunia sastra, sejarah, dan kebudayaan. Maka, Muna menyambutnya bukan sekadar sebagai pejabat negara, melainkan sebagai duta akal dan rasa. Kabupaten yang kaya akan situs sejarah ini seolah mengirim sinyal kepada pusat kekuasaan: Liriklah kami, sebab kami tak miskin warisan. Yang kami butuhkan hanya panggung yang pantas untuk menampilkan kekayaan itu.
Festival Liangkabori yang digelar 11–18 Juli 2025 bukanlah pesta kembang api. Ia adalah upaya menjaga bara warisan agar tidak padam di tengah gelombang modernitas. Festival ini adalah bentuk perlawanan lembut terhadap lupa. Namun, alangkah sayangnya jika semangat itu hanya bertahan sebentar—sekadar euforia mingguan tanpa kesinambungan.
Mestinya, Fadli Zon tidak hanya hadir, tapi juga menjadi motor perubahan. Menjadikan Festival Liangkabori sebagai agenda nasional, bahkan internasional, bukan sekadar mimpi kosong. Justru inilah saat yang paling tepat untuk menjadikannya mercusuar kebudayaan yang menembus batas negara.
Bayangkan, jika suatu saat turis-turis dari Eropa, Asia, hingga Amerika datang bukan hanya untuk berfoto di Bali, tapi untuk menyusuri gua Liangkabori, menyimak dongeng dari para tetua Muna, atau meneliti simbol-simbol arkeologis yang belum sepenuhnya terpecahkan. Muna tak lagi menjadi titik sunyi di peta republik, tetapi menjadi episentrum pengetahuan dan pariwisata budaya.
Konsekuensi dari skala festival internasional tentu bukan kecil. Anggaran akan membengkak. Tetapi, begitulah harga dari pembangunan peradaban. Kita tidak sedang membeli gemerlap semata. Kita sedang berinvestasi pada identitas, pada martabat bangsa, dan pada masa depan ekonomi yang tak tergantung pada tambang atau birokrasi semata.
Muna adalah tanah yang masih memikul status “kabupaten miskin”, namun kekayaan sejatinya justru tertanam dalam bebatuan dan warisan budayanya. Ketika kebudayaan menjadi arus utama pembangunan, maka yang miskin bukan lagi Muna—melainkan daerah lain yang abai terhadap sejarah dan nilai leluhur.
Jika Fadli Zon berhasil mendorong Festival Liangkabori naik panggung nasional atau bahkan internasional, maka ia bukan hanya menjadi Menteri Kebudayaan, melainkan penjaga gerbang waktu. Ia akan dikenang sebagai orang yang tak sekadar menghadiri acara, tapi turut menyulut cahaya dari dalam gua sejarah.
Mari kita desakkan harapan ini bukan dengan teriak, tetapi dengan karya, dengan kata, dan dengan ketekunan. Karena Liangkabori bukan sekadar tempat—ia adalah saksi sunyi yang kini memanggil kita semua, terutama pemimpin di bidang kebudayaan, untuk berhenti sejenak dan mendengar suara dari kedalaman waktu.
Dan mungkin, di balik keheningan itu, ada suara masa depan yang tengah menunggu untuk diwujudkan.