PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI – Kuliah umum Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, di Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo (UHO), Sabtu (6/6), berlangsung tidak biasa. Di sela-sela pemaparan materi, Amran justru dibuat terpukau oleh produk hasil hilirisasi riset farmasi karya Dekan Fakultas Farmasi UHO, Prof. Ruslin.
Produk herbal yang dikembangkan untuk membantu mengatasi gangguan disfungsi seksual itu dipamerkan langsung di hadapan sang menteri. Ketertarikan Amran muncul seketika setelah mendengar penjelasan mengenai proses penelitian hingga komersialisasi produk tersebut.
“Kalau aku beli Rp10 juta, banyak enggak? Karena aku mau bagikan ke pakuwo,” ujar Amran yang langsung disambut gelak tawa peserta kuliah umum.
Mendengar respons tersebut, Prof. Ruslin yang berada di atas panggung langsung menyatakan kesiapannya memenuhi permintaan Menteri Pertanian.
“Oh, bisa. Bisa saya amankan sampai dengan dus-dusnya,” jawab Ruslin.
Namun, respons Amran berikutnya justru membuat suasana auditorium semakin riuh. Setelah mengetahui nilai paket produk yang ditawarkan sekitar Rp7,8 juta, ia menolak menerima kembalian. Bahkan, mantan Menteri Pertanian periode 2014–2019 itu memutuskan menggandakan nilai pembelian sebagai bentuk dukungan terhadap inovasi kampus.
“Enggak, aku beli di sini Rp15 juta kali dua. Jadi Rp30 juta. Oh siap, aku bangga,” tegas Amran sembari meminta ajudannya segera menyelesaikan pembayaran.
Aksi spontan tersebut langsung mendapat tepuk tangan meriah dari ratusan civitas akademika yang hadir.
Menurut Amran, langkah membeli produk hasil penelitian kampus bukan sekadar transaksi biasa. Ia ingin memberikan contoh nyata bahwa hasil riset perguruan tinggi harus didorong masuk ke pasar dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Jangan lihat harganya, tapi ini gajinya menteri dipakai belikan penemuan dari Halu Oleo,” katanya. Pernyataan itu kembali memantik aplaus panjang dari peserta kuliah umum.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Ruslin juga memperkenalkan produk lanjutan yang tengah dikembangkan tim penelitinya, yakni komplemen khusus wanita bernama Cokelat RD. Ia memastikan seluruh produk yang dikembangkan telah melalui pengujian keamanan.
“Tidak ada efek sampingnya Pak Menteri, hanya efek depan,” selorohnya yang kembali mengundang tawa hadirin.
Selain memaparkan inovasi farmasi yang berhasil dihilirisasi, Prof. Ruslin turut menyampaikan apresiasinya terhadap kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Menurutnya, keberhasilan Kementerian Pertanian dalam menjaga dan meningkatkan produktivitas sektor pertanian nasional tidak terlepas dari pemanfaatan teknologi digital yang memungkinkan pengawasan dan pengambilan keputusan dilakukan secara cepat dan berbasis data.
Ruslin menilai Amran berhasil menerapkan sistem pemantauan digital yang mampu mengawasi perkembangan hasil-hasil pertanian di berbagai wilayah Indonesia secara real time. Pendekatan tersebut dinilai menjadi salah satu terobosan penting dalam tata kelola pemerintahan modern.
Menurut Ruslin, model kepemimpinan berbasis teknologi yang diterapkan Amran bahkan menginspirasi dirinya dalam menyusun sebuah buku berjudul Digital Leadership Approach.
Buku tersebut mengulas bagaimana pemimpin di era digital dapat memanfaatkan teknologi informasi sebagai instrumen strategis dalam mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan efektivitas organisasi, serta memperkuat pelayanan kepada masyarakat.
“Apa yang dilakukan Pak Menteri Amran menunjukkan bahwa teknologi digital bukan hanya alat pendukung, tetapi sudah menjadi instrumen utama dalam membangun tata kelola yang efektif, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” ujar Ruslin.
Di penghujung acara, Amran memberikan apresiasi khusus terhadap konsistensi Prof. Ruslin dalam menghilirisasi hasil penelitian. Menurutnya, langkah tersebut patut menjadi contoh bagi para akademisi dan peneliti di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Amran mengaku teringat pengalaman saat membeli langsung produk inovasi traktor karya mahasiswa dan peneliti di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Baginya, keberhasilan sebuah riset tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah, tetapi juga dari kemampuannya menjawab kebutuhan masyarakat dan menciptakan nilai ekonomi.
“Kalau kampus mampu menghasilkan inovasi yang dibutuhkan masyarakat dan berani mengkomersialkannya, maka itulah jalan menuju kemandirian bangsa,” pungkasnya. (ali)