PIKIRANLOKAL.COM, KONAWE UTARA-Pemerintah pusat menggelontorkan Rp10,24 miliar untuk Desa Sabandete Trans Hialu, Konawe Utara. Kunjungan Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menjadi awal harapan baru bagi kawasan transmigrasi yang lama terisolasi.
Minggu, 3 Agustus 2025. Udara sejuk Kecamatan Oheo, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, mendadak ramai. Ratusan warga berkumpul di Desa Sabandete Trans Hialu. Di bawah tenda biru yang dipasang di lapangan desa, mereka menunggu tamu penting dari Jakarta, Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi.
Sekitar pukul 11 siang, iring-iringan mobil memasuki desa. Di barisan depan, Bupati Konawe Utara H. Ikbar, SH., MH., bersama Wakil Bupati H. Abuhaera, S.Sos., M.Si., menyambut sang tamu. Tak hanya jajaran pemerintah daerah, Forkopimda, Wakil Ketua II DPRD Konut, camat, kepala OPD, hingga para tokoh masyarakat ikut hadir.
Dalam sambutannya, Ikbar tak bisa menyembunyikan rasa gembiranya. Baginya, kunjungan Wamen Transmigrasi ini bukan sekadar acara seremonial. “Ini adalah bentuk nyata kepedulian pemerintah pusat terhadap desa kami,” katanya lantang. Ia mengakui, Sabandete Trans Hialu masih kekurangan infrastruktur dasar. Jalan berlubang, air bersih sulit, dan fasilitas publik terbatas. “Kami optimis, kunjungan ini akan membuka jalan bagi kemajuan desa.”
Di hadapan warga, Viva Yoga mengumumkan kabar gembira, pemerintah pusat mengalokasikan dana Rp10.241.088.000 untuk pembangunan kawasan transmigrasi di Konawe Utara. Anggaran ini akan digunakan membangun jalan penghubung desa, sarana air bersih, dan fasilitas umum lain.
Transmigrasi bukan hanya memindahkan penduduk. Namun ini bagian program strategis nasional untuk pemerataan pembangunan, pengentasan kemiskinan, dan membangun pusat pertumbuhan baru.
“Sabandete Trans Hialu punya potensi besar, dari lahan pertanian subur hingga dukungan masyarakat yang kuat,” ujarnya.
Viva Yoga menegaskan, keberhasilan program transmigrasi membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah pusat dan daerah. Ia menyebut kawasan transmigrasi seperti Sabandete Trans Hialu berpeluang menjadi model desa mandiri di Sulawesi Tenggara.
Program ini menjadi babak baru bagi desa transmigrasi. Selama bertahun-tahun, akses jalan yang buruk membuat desa ini terisolasi. Petani sulit memasarkan hasil kebun. Air bersih hanya mengandalkan sumur gali. Kini, dengan kucuran dana yang cukup besar, pemerintah desa dan masyarakat berharap kondisi itu segera berubah.
Kepala Desa Sabandete Trans Hialu yang hadir siang itu menyebut bantuan ini sebagai “titik balik”. “Warga kami menunggu lama. Semoga pembangunan cepat jalan,” katanya.(ali).