PIKIRANLOKAL.COM, KONAWE-Suasana Hotel Nugraha, Unaaha, Kamis pagi (24/7/2025), berubah menjadi ruang dialektika kebijakan jangka menengah. Di bawah langit Konawe yang sedikit mendung, Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RPJMD Kabupaten Konawe 2025-2030 berlangsung dengan napas baru, ilmiah, strategis, dan berpijak pada kenyataan lapangan.
Di tengah kerumunan birokrat, akademisi, dan tokoh masyarakat, sosok Dr. Najib Husain tampil sebagai salah satu poros intelektual yang memandu arah kebijakan lima tahun ke depan.
Dr. Najib, akademisi dari Universitas Halu Oleo, diundang sebagai Tenaga Ahli dalam penyusunan dokumen strategis tersebut. Tampil tenang dan sistematis, ia memaparkan garis besar pemikiran yang menjadi fondasi penting pembangunan Konawe di bawah duet kepemimpinan Bupati Yusran Akbar dan Wakil Bupati Syamsul Ibrahim.
“RPJMD bukan sekadar dokumen administratif. Ia harus menjadi narasi perubahan,” ucap Najib di hadapan forum yang didominasi pejabat eselon dan perencana daerah.
Ia menegaskan pentingnya menyusun RPJMD yang selaras dengan arah pembangunan provinsi maupun nasional. “Tanpa konektivitas antarlevel pemerintahan, kita hanya akan berjalan sendiri dalam rimba kebijakan,” ujar Dr. Najib.
Menurut Najib, selaras saja belum cukup. Perencanaan juga harus berpijak dari akar permasalahan yang terdeteksi secara menyeluruh. Ia menekankan, program-program yang tertuang dalam RPJMD, lahir dari kebutuhan nyata masyarakat. Bukan hasil tempelan anggaran rutin yang tak berpihak pada problem rakyat.
“Program harus menjawab rasa sakit masyarakat. Bukan sekadar laporan kinerja,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Najib juga menyoroti pentingnya evidence-based planning—perencanaan yang berbasis data dan riset lapangan. Sebab, hanya dengan pendekatan ini, kata dia, program Bupati Yusran dan Wakilnya Syamsul benar-benar bisa menyentuh jantung persoalan.
Visi besar “Konawe yang Berdaya Saing, Sejahtera, Adil dan Berkelanjutan” pun menjadi benang merah dari semua diskusi hari itu. Najib melihat, visi tersebut tak akan menjadi utopia jika diturunkan ke dalam program-program yang terukur dan berakar kuat pada kondisi riil.
Yusran Akbar, yang baru beberapa bulan menjabat sebagai Bupati Konawe, tampak menyimak serius pemaparan Najib. Dalam sambutannya, ia menyatakan komitmen untuk menjadikan RPJMD bukan sekadar ritual lima tahunan. “Kami ingin RPJMD ini menjadi buku kerja. Pegangan yang hidup, bukan dokumen mati di rak kantor,” kata Yusran.
Di akhir forum, Musrenbang bukan hanya menjadi panggung untuk menyusun rencana. Tapi juga momentum untuk membangun kepercayaan publik bahwa Konawe tak sedang berjalan tanpa arah.
Bersama gagasan para ahli, seperti Dr. Najib Husain, pemerintahan Yusran–Syamsul tampak hendak melangkah lebih sistematis menuju perubahan yang dijanjikan.
Lima tahun ke depan, seperti kata Najib, akan menjadi waktu ujian, apakah rencana-rencana itu mampu membumi atau sekadar berhenti di ruang musyawarah.(ali).