PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI—Nur Alam, lelaki yang lahir pada 9 Juli 1967 itu, kini genap berusia 58 tahun. Dan di usia itu, ia bukan sekadar menua dalam bilangan, tetapi mematangkan dirinya dalam kebijaksanaan, dalam cahaya perjalanan yang tak pernah padam.
Ia adalah saksi sekaligus pelaku zaman, yang sejak dini telah digembleng oleh kehilangan dan perjuangan. Hingga ia menjelma menjadi pemimpin yang dicintai, dihormati, dan dikenang. Sejarah hidup Nur Alam, berenang dalam denyut nadi perjuangan, walau tampak tenang di permukaan.
Lelaki ini lahir dalam pelukan kesederhanaan, pada sebuah ruang kecil di Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan dari rahim Hj. Fatimah. Ayahnya, Muhammad Isrudin Lanay, seorang Kepala Distrik yang dikenal tegas namun bersahaja.
Ketika ayahnya, Muhammad Isrudin Lanay, pergi meninggalkan dunia saat Nur Alam masih berumur 14 tahun, kehidupan keluarga itu sontak dilanda sepi dan ujian.
Ibunya, Hj. Fatimah, harus menjadi tiang yang menegakkan rumah dan jiwa anak-anaknya. Namun, dari kesedihan itulah, tampaknya semangat Nur Alam terlahir. Seorang anak yatim yang menyimpan bara kepemimpinan dalam dadanya.
Api kecil itu pertama kali menyala di SMP Negeri Wuawua, saat ia dipercaya menjadi Ketua OSIS. Ia tak sekadar menjadi pemimpin di antara kawan sebaya, tetapi juga belajar menyuarakan aspirasi, mengorganisasi harapan, dan mengasah keberanian. Jejak itu berlanjut hingga bangku SMA, dengan gelar yang sama, Ketua OSIS. Sebuah isyarat dari masa depan.
Nur Alam tumbuh di antara getir dan pengharapan. Ia tidak lahir dari elite yang mapan, namun keteguhan dan kecerdasan menjadi jembatan emasnya menuju panggung yang lebih besar. Dunia politik tak serta merta ia taklukkan. Ia melewati banyak lorong perjuangan.

Salah satunya ketika ia bergabung dengan BMATMS, organisasi masyarakat Sulawesi Tenggara yang didirikan tahun 1996. Di sana, ia tidak sekadar menjadi penonton, tapi penggerak, pembelajar, dan pemikir.
Lalu, melalui Partai Amanat Nasional, nama Nur Alam mencuat, melewati ujian demi ujian politik yang tak mudah. Tanggal 27 Juli 2000 adalah momentum bersejarah. Di hadapan ratusan pemilik suara, Nur Alam menang mutlak dan terpilih sebagai Ketua DPW PAN Sultra. Bukan karena janji, tapi karena kerja nyata dan narasi politik yang mampu merangkul banyak kalangan.
Ia membawa PAN melampaui bayangannya sendiri, hingga pada Pemilu 2014, partai berlambang matahari itu mampu menduduki kursi tertinggi di DPRD Sultra. Sejarah mencatat, di bawah kepemimpinan Nur Alam, PAN tak sekadar menjadi partai, tapi juga rumah besar yang memayungi suara rakyat.
Dan puncaknya, Sulawesi Tenggara memanggilnya. Ia terpilih menjadi Gubernur dua periode, dari 2008 hingga 2018. Sepuluh tahun yang penuh gejolak, kerja keras, dan pencapaian.
Lihatlah Sultra di masa itu. Dari pembangunan infrastruktur yang menjangkau pelosok, kemajuan pendidikan yang menyentuh anak-anak desa, layanan kesehatan yang membaik, hingga tumbuhnya sektor pertanian dan perkebunan yang menopang ekonomi rakyat. Nur Alam bukan hanya bekerja untuk kekuasaan, ia mengabdi untuk kesejahteraan.
Kini, di usia 58 tahun, Nur Alam tidak lagi berada di panggung utama, tetapi seperti pelita, cahayanya tetap menyinari dari balik layar. Ia tak pernah benar-benar pergi dari denyut nadi Sulawesi Tenggara.
Ia tetap membaca buku, berdiskusi, menyemai gagasan, dan tentu saja, menjadi sosok ayah dan kepala keluarga yang hangat. Dalam diam, pikirannya tetap bekerja. Dalam senyap, semangatnya masih menyala.
Mungkin jabatan telah usai, namun pengabdian Nur Alam belum tamat. Ia tetap menyusun harapan untuk rakyat Sultra. Dalam wajah-wajah petani di Muna raya, Bombana dan Konawe raya, nelayan di Buton raya, atau pelajar di Kolaka raya, masih terpatri nama dan kerja kerasnya.
Ia tetap menjadi simbol, bukan sekadar tokoh politik, tetapi pemimpin yang telah memahat makna dalam sejarah daerahnya.
Nur Alam adalah kisah tentang perjuangan yang tak mengenal kata menyerah. Ia bukan malaikat, tetapi manusia yang terus berikhtiar menyalakan terang. Ia adalah Nur di tengah kelam, dan Alam yang tak jemu merawat mimpi-mimpi rakyatnya.
Selamat ulang tahun ke-58, Bapak Nur Alam. Semoga cahaya pengabdianmu terus abadi, menuntun generasi Sultra ke arah yang lebih bercahaya.
Perjuangan yang Tak Memudar
Nur Alam tetap kokoh. Ia adalah wujud dari pemimpin yang tak hanya berpikir untuk masa jabatan, melainkan untuk masa depan. Ia adalah pengingat bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan soal kesediaan mencintai rakyat dengan tulus. Di matanya, rakyat Sultra bukan sekadar angka statistik, tetapi wajah-wajah yang membutuhkan harapan dan kerja nyata.
Dalam catatan sejarah Sultra, nama Nur Alam bukan sekadar catatan birokrasi. Ia adalah narasi tentang keberanian melawan arus, tentang anak yatim yang bangkit menjadi pemimpin, dan tentang cinta yang tak pernah usai untuk tanah kelahirannya. Di ulang tahunnya yang ke-58 ini, Nur Alam bukan hanya bertambah usia, ia memperpanjang jejak pengabdian.
Dan pada akhirnya, bila kelak anak-anak negeri ini bertanya siapa yang pernah mencintai Sultra sepenuh hati, kita bisa menyebut satu nama: Nur Alam. Seorang pemimpin yang lahir dari rakyat, hidup untuk rakyat, dan akan terus dikenang oleh rakyat. (ali).