*Penulis Muhamad Akbar Ali (Jurnalis Politik Sulawesi Tenggara)
PIKIRANLOKAL.COM, MUNABARAT-Tanggal 7 Februari 2026 mestinya menjadi hari konsolidasi kader. Hari evaluasi perjuangan. Hari di mana Golkar Muna Barat menatap masa depan dengan kepala tegak. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Hari itu menjadi panggung sempurna bagaimana kekuasaan bisa bekerja tanpa suara berbeda, tanpa perlawanan.
Namanya Rhika Purwaningsih Darwin. Terpilih aklamasi sebagai Ketua DPD II Golkar Muna Barat. Menggantikan Uking Djasa. Aklamasi. Kata yang terdengar indah. Tapi sering kali menyimpan cerita paling sunyi. Tidak ada yang berani melawan.
Rhika bukan kader lama. Bukan pejuang partai yang puluhan tahun menelan debu kampanye. Ia baru masuk dunia politik ketika mendampingi suaminya, Darwin, yang bergerilya menjelang Pilkada 2024. Dua tahun sebelum kontestasi itu, Darwin turun ke masyarakat. Dan Rhika ikut hadir. Dari situlah panggung politiknya dimulai. Lalu semuanya bergerak cepat. Terlalu cepat. Darwin menjadi Bupati Muna Barat.
Darwin menjadi Ketua DPD I Golkar Sulawesi Tenggara. Dan kini istrinya, menjadi Ketua DPD II Golkar Muna Barat. Golkar Sultra berubah menjadi cerita yang ngeri sekaligus mengerikan. Satu keluarga menguasai dua level struktur partai. Provinsi dipegang suami. Kabupaten dipegang istri. Ini bukan lagi sekadar kaderisasi. Ini bukan sekadar regenerasi. Ini adalah pola klasik. Konsolidasi kekuasaan dalam lingkaran keluarga.
Sebagian internal partai berdalih, ini emansipasi. Ini kesetaraan gender. Perempuan diberi ruang. Narasi itu terdengar modern. Progresif. Tapi publik tidak bodoh. Emansipasi bukan berarti melompati kader-kader yang telah puluhan tahun berjuang. Kesetaraan gender bukan berarti mempercepat karier politik hanya karena hubungan darah dengan penguasa partai.
Di balik aklamasi itu, bisa saja ada banyak kader lama yang menelan kecewa. Mereka mungkin tidak punya jabatan. Tidak punya akses kekuasaan. Tapi mereka punya satu hal yang diabaikan, loyalitas panjang. Mereka pernah mengibarkan bendera Golkar saat partai itu tidak populer. Mereka bertahan ketika kursi DPRD menipis. Tapi di hadapan kekuasaan Darwin, Ketua DPD I sekaligus Bupati, semua suara seperti menguap.
Politik memang soal kekuatan. Dan di Muna Barat, kekuatan itu tampak terlalu terkonsentrasi. Fenomena seperti ini bukan barang baru di dunia. Pakistan punya keluarga Bhutto-Zardari. Argentina punya Kirchner. Banyak negara menunjukkan bagaimana pasangan suami-istri menguasai partai dan negara sekaligus.

Indonesia juga tidak steril. Dari pusat sampai daerah, dinasti politik menjelma menjadi norma baru dibungkus jargon regenerasi dan loyalitas.
Masalahnya bukan pada hubungan suami-istri. Masalahnya pada ketimpangan peluang. Ketika jalur kepemimpinan ditentukan oleh kedekatan, bukan kapasitas. Ketika kader senior harus menunduk karena struktur kekuasaan terlalu tinggi untuk dilawan.
Golkar Muna Barat saat ini hanya memiliki tiga kursi DPRD. Itu angka yang rawan. Partai membutuhkan kepemimpinan matang. Butuh pengalaman organisasi. Butuh strategi yang lahir dari pemahaman panjang, bukan sekadar popularitas baru.
Sebagian orang mencoba realistis. Okelah, kata mereka, Rhika jadi pucuk pimpinan. Selama kerja teknis tetap dijalankan kader berpengalaman. Selama mesin partai tetap bergerak oleh orang-orang lama. Tapi sejarah partai mengajarkan satu hal. Ketika kepemimpinan lahir dari kekuasaan, maka keputusan strategis juga akan mengikuti jalur kekuasaan.
Pertanyaan paling jujur sekarang sederhana, apakah Golkar Muna Barat sedang membangun masa depan, atau sedang mempersempit ruang kaderisasi? Publik menonton. Kader menahan napas. Lawan politik menunggu celah.
Karena dinasti politik selalu punya dua kemungkinan. Memperkuat stabilitas atau mempercepat kehancuran. Dan sejarah sering menunjukkan, ketika kekuasaan terlalu terkonsentrasi dalam satu keluarga, partai perlahan kehilangan roh kolektifnya.
Muna Barat kini menjadi cermin kecil wajah politik dinasti di Indonesia. Di sana, aklamasi tidak lagi sekadar kesepakatan. Ia bisa menjadi tanda bahwa demokrasi internal sedang sakit.
Waktu akan menguji Rhika. Tapi lebih dari itu, waktu akan menguji apakah Golkar Muna Barat masih milik kader, atau sudah menjadi milik keluarga.