La Ode Darwin, Golkar dan Takhta Gubernur

La Ode Darwin (kiri, berkemeja putih lengan panjang) menyalami Prof. Mahmud Hamundu (tengah, depan) dengan mencium tangannya sebagai bentuk penghormatan. Tampak Ridwan Bae (kanan) yang menyaksikan.

Penulis: Muhammad Akbar Ali (Jurnalis Politik Sulawesi Tenggara)

PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI-Ada yang pelan-pelan, ada pula yang melompat. Dalam politik, tak semua orang terlahir di rumah yang sama. Ada yang tumbuh dari ring tinju parlemen. Ada juga yang muncul dari balik meja bisnis. La Ode Darwin, dalam riwayat politik Sulawesi Tenggara, termasuk kategori yang kedua.

Besok, 2 November 2025, Golkar Sulawesi Tenggara menggelar Musda. Tapi atmosfernya terasa lebih mirip upacara pelantikan ketimbang arena kontestasi. Satu nama saja yang disinyalir berdiri di panggung. Darwin. Tanpa lawan. Ini aneh sekaligus menarik. Biasanya, kursi ketua Golkar adalah kursi panas. Tapi Darwin seolah duduk di kursi tunggal.

Saya ingat Pilkada Muna Barat 2024. Darwin melenggang sendirian. Menang telak 84,78 persen. Lawannya? Tak ada. Seakan-akan semua pihak menyepakati, biarkan Darwin lewat. Kali ini, di level provinsi, sejarah itu diulang.

Tentu, ini mengundang pertanyaan. Apa yang membuat orang ini begitu mudah melintasi jalur-jalur penuh ranjau politik tanpa cedera?

Jawabannya mungkin ada pada “fitrah asalnya”. Darwin lahir bukan dari rahim politisi, tapi dari kerasnya dunia dagang. Ia tumbuh sebagai pengusaha. Lalu ia belajar seni membungkam lawan tanpa harus ribut. Seni kepemimpinan tanpa pidato panjang. Seni bangun jejaring tanpa pamer pencitraan.

Perusahaan yang ia pernah pimpin bukan sekadar nama belaka. Ada PT Logam Makmue Arga, PT Arga Morini Indah, PT Arga Morini Indotama, dan PT Bakti Pertiwi Nusantara. Bukan perusahaan kaleng-kaleng.

Tapi itu belum cukup di dunia politik. Lalu datanglah Ridwan Bae. Ini mentor sekaligus pahlawan penting bagi perjalanan politik Darwin. Ridwan bukan sekadar tokoh senior Golkar. Ia adalah jembatan emas menuju orbit nasional. Darwin, di situ belajar banyak.

Dan politik-bisnis memang perpaduan yang asin-gurih. Darwin, dari cara ia bergerak, tampak tidak ingin hanya menjadi bupati yang sekadar tampil baik di panggung lokal. Ia sedang memahat citra. Menyusun ulang peta. Mengukuhkan diri sebagai figur alternatif untuk panggung besar berikutnya. Pilgub Sultra 2030.

Ketika nama Andi Sumangerukka kini jadi figur dominan di provinsi, Darwin muncul sebagai blip kecil di radar. Tapi blip itu membesar. Diam-diam, ia menyiapkan amunisi. Jejaring partai? Ada. Modal? Pasti. Narasi? Sedang dibangun. Dan di antara semua itu, ada keyakinan, Gubernur bukan sekadar takhta. Tapi bisa saja jadi tujuan ideal dari jalan politik untuk ia mengabdi lebih luas.

Sultra ke depan akan menarik. Kita akan menyaksikan pertarungan Kepala Daerah berlatar militer juga pebisnis vs Kepala Daerah berlatar pengusaha. Yang satu mengandalkan pengalaman lapangan dan struktur. Yang satu mengandalkan jaringan modal dan fleksibilitas strategi. Ada benturan pola pikir di situ. Ada daya tarik baru bagi pemilih, terutama generasi muda.

Tentu, politik itu cair. Hari ini disepakati, besok bisa berantakan. Tapi Darwin bermain layaknya bidak yang cerdik. Tiap langkahnya bukan sekadar untuk hari ini, melainkan untuk lima tahun ke depan. Atau mungkin sepuluh.

Jika besok Musda berakhir seperti yang sudah diduga, aklamasi. Maka kita sebenarnya sedang menyaksikan satu plot yang tengah disusun. Darwin bukan sekadar mengambil palu ketua. Ia sedang menapakkan kakinya ke anak tangga berikutnya.

Dari pengusaha muda di sudut kampung, jadi bupati muda, lalu ketua partai. Dan siapa tahu, kelak mendiami rujab gubernur. Jika skenarionya tidak dipatahkan oleh skandal, oleh data, atau oleh nasib buruk, maka Darwin adalah satu dari sedikit yang berhasil memadukan modal, momentum, dan mesin partai.

Seperti kata seorang kawan, “Bupati bisa lahir dari visi. Gubernur lahir dari kalkulasi.” Dan Darwin, rupanya, sedang menghitung dengan teliti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
error: Content is protected !!