PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI-Di antara desir angin Kendari yang menyapu pelataran Gedung Olahraga (GOR) Poltekes, sebuah gema lama mulai terdengar kembali. Bukan nyanyian, bukan sorak kemenangan, tetapi denting semangat yang selama 14 tahun tertidur, turnamen karate Piala Gubernur Sultra akhirnya kembali.
Dari 24 hingga 26 Juli 2025 mendatang, arena itu bukan hanya menjadi tempat pertemuan tubuh dan teknik, tapi juga persilangan mimpi, harga diri, dan warisan semangat bela diri yang selama ini bersembunyi dalam hening.
Lebih dari seribu jagoan bakal menyatu di Kendari. Tepatnya, 1.008 atlet karateka dari berbagai penjuru Sultra telah memastikan diri sebagai peserta. Jumlah yang tak hanya mencerminkan besarnya animo, tetapi juga menandai kebangkitan sebuah tradisi yang nyaris hilang dalam debu waktu.
“Ini bukti bahwa gairah karate di daerah kita belum mati. Bahkan semakin menyala.” Demikian ujar Dr. Sofyan, S.E., M.M, Ketua Harian Forki Sultra yang mewakili Ketua Forki Sultra, La Ode Daerah Hidayat, S.Pd., M.Si.
Sejak awal, turnamen ini bukan sekadar ajang tanding. Ia adalah panggilan pulang bagi semangat yang lama terlantar. Di balik sabuk putih hingga hitam, terkandung cerita-cerita perjuangan, disiplin, dan rasa cinta pada seni bela diri yang diwariskan turun-temurun.
La Ode Daerah Hidayat, yang juga menjabat sebagai Kadispora Sultra, menyambut dengan penuh keteguhan. Dispora Sultra tidak hanya memfasilitasi, tetapi juga merangkul seluruh kekuatan. Dari dojo hingga perguruan, dari pelatih tua hingga atlet belia, agar turnamen ini menjadi lebih dari sekadar kompetisi.
“Kami sudah siapkan semuanya. Bukan hanya venue, tapi juga sistem dan sinergi yang kuat antara Forki dan pemerintah. Kami ingin kejuaraan ini menjadi titik balik kemajuan karate di Bumi Anoa,” ucap La Ode Hidayat.
Forki Sultra kini berdiri tegak dengan struktur yang lengkap di 17 kabupaten/kota, 14 perguruan karate, dan dukungan solid dari para legenda karate daerah. Tak tanggung-tanggung, mantan atlet nasional ikut andil membina peserta. Bahkan untuk menjaga marwah pertandingan, wasit berlisensi dunia disiapkan. Memastikan setiap poin adalah hasil perjuangan yang adil.
Dan seperti dalam laga sejati, bukan hanya kebanggaan yang dipertaruhkan. Hadiah menggiurkan juga disiapkan:
Juara Umum I: Rp25.000.000
Juara Umum II: Rp20.000.000
Juara Umum III: Rp15.000.000
Namun hadiah hanyalah bonus. Sesungguhnya, yang lebih berharga adalah kesempatan untuk melompat dari dojo lokal ke panggung nasional. Inilah bagian dari rencana besar. Menjaring atlet untuk PON NTT–NTB mendatang, sekaligus memupuk mental juara sejak dini.
“Kami ingin menjadikan kejuaraan ini sebagai agenda rutin, minimal dua sampai tiga kali setahun. Karate Sultra tidak boleh lagi tidur,” ungkap La Ode Daerah, penuh tekad.
Keistimewaan turnamen tahun ini bertambah karena akan dirangkaikan dengan pelantikan pengurus Forki Sultra yang baru. Tidak main-main, Ketua Umum PB Forki, Hadi Tjahjanto, akan hadir langsung. Sosok yang membawa aura nasional ke jantung semangat karate Sultra.
Di balik semua ini, ada harapan yang tak bisa diukur dengan angka atau medali. Harapan dari arena GOR Poltekes itu, akan lahir nama-nama baru yang kelak mewakili Sultra di pentas nasional bahkan internasional. Bahwa, semangat yang lama mengendap, kini telah mendidih, siap bertarung menyalakan prestasi.
Dan ketika sang juara nanti berdiri di podium, bukan hanya nama mereka yang dielu-elukan. Tetapi juga nama Sulawesi Tenggara, yang kembali bersuara lantang dalam dunia karate Indonesia. (ali).