PIKIRANLOKAL.COM,KENDARI—Pagi yang dibasuh cahaya mentari, lapangan Mapolda Sulawesi Tenggara menjadi panggung dari sebuah peringatan. Bukan peringatan yang ditulis dengan tinta merah, atau teriakan di atas podium, melainkan lewat barisan tegap dan tatapan mata yang menyimpan niat bulat. Menegakkan tertib lalu lintas.
Senin, 14 Juli 2025, Apel Gelar Pasukan Operasi Patuh Anoa 2025 resmi digelar. Di tengah-tengah deretan seragam cokelat, hijau, putih, dan biru laut, berdiri sosok pemimpin yang menyuarakan kepedulian, bukan ketakutan. Irjen Pol Didik Agung Widjanarko, S.I.K., M.H., Kapolda Sultra, memimpin apel dengan penuh ketenangan, tapi juga ketegasan yang memantul dari setiap kalimat yang dilafalkannya.
Hadir mendampingi, para tokoh dari lintas institusi—Danrem 143/Halu Oleo Brigjen TNI Raden Wahyu Sugiarto, Danlanal Kendari Kolonel Laut (P) Dedi Wardana, dan perwakilan Danlanud Halu Oleo. Di antara mereka, berdiri pula Wakapolda Sultra Brigjen Pol Amur Chandra Juli Buana, jajaran pejabat utama, serta perwakilan Dinas Perhubungan dan Jasa Raharja. Apel ini bukanlah seremoni biasa. Ia adalah lonceng penanda bahwa masa memaklumi pelanggaran telah usai.
Jalan Raya bukan Ladang Menebar Bahaya
Ratusan personel gabungan dari unsur Polri, TNI, dan PNS Polri hadir dalam barisan. Mereka tak sekadar membawa perintah, tapi juga kehendak kolektif untuk merawat nyawa-nyawa yang setiap hari menggantung di antara gas dan rem, di antara kelalaian dan kecepatan.
Pengendara roda dua dan roda empat yang kerap melanggar, menerobos lampu merah, mengabaikan helm, memainkan telepon seluler di balik kemudi. Apel ini adalah pesan tegas, bahwa bebasmu akan diakhiri. Jalan raya bukan tempat menebar bahaya, bukan tempat pelarian dari tanggung jawab sosial. Kini saatnya menunduk pada aturan, demi hidup yang lebih selamat.
Kapolda Didik Agung menjelaskan bahwa operasi ini akan digelar selama 14 hari, dari 14 hingga 27 Juli 2025. Sebanyak 324 personel diturunkan. Mereka adalah penjaga kesadaran di persimpangan jalan, di jalur utama dan lintasan pinggiran.
Pelanggaran Biasa yang Membunuh dalam Diam
Operasi ini menyasar pelanggaran yang selama ini dianggap remeh, tapi mematikan. Dari pengendara di bawah umur, pengemudi yang menenggak minuman keras, hingga aksi melawan arus seperti menantang ajal. Bahkan helm SNI, yang kerap diabaikan, kini menjadi benteng pertama dalam pencegahan maut.
“Setiap larangan yang ditertibkan bukan untuk mengekang, melainkan untuk menyelamatkan. Karena terlalu sering mengira kecelakaan hanyalah takdir. Terkadang dibalik itu, adalah hasil pilihan sadar untuk melanggar,” kata Kapolda Sultra Widjanarko.
Jendral bintang dua itu menegaskan, pendekatan dalam operasi ini tak akan represif. Penegakan hukum akan berjalan dengan wajah lembut, dengan suara yang lahir dari hati, bukan membentak, namun dengan sikap yang mendidik dan ramah.
Bukan Sekadar Operasi, Tapi Kebangkitan Budaya
Lebih dari sekadar penindakan, Operasi Patuh Anoa adalah undangan untuk menghidupkan kembali budaya tertib berlalu lintas. Budaya yang tumbuh dari rumah, dari ruang kelas, dari obrolan warung kopi, dan dari keteladanan.
“Dengan kolaborasi antarinstansi dan partisipasi aktif masyarakat, kita harapkan terwujudnya budaya tertib lalu lintas yang berkelanjutan di Sulawesi Tenggara,” ujar Irjen Pol Didik Agung menutup apel.
Di balik apel itu, tersimpan harapan yang tak kasat mata. Suatu hari, ketika seorang anak mengenakan helm kecilnya sebelum naik motor bersama ayahnya, atau seorang remaja memilih menepi untuk menerima telepon, sebuah isyarat bahwa Operasi Patuh Anoa telah berhasil. Bukan karena banyaknya tilang, tapi karena lahirnya kesadaran baru di jalanan.
Dan mungkin, pada hari itu, kepolisian tak perlu lagi menggelar apel seperti ini. Sebab tertib sudah menjadi disiplin hidup, dan pemandangan jalan raya yang telah tertata rapi. (ali).