Unsultra Gelar Seminar Nasional, Kupas Tuntas Risiko Bisnis Pertambangan

Salah satu pemateri Seminar Nasional yang memaparkan gagasan dan ide terkait tema yang dibahas, Sabtu (12/7/2025).

PIKIRANLOKAL.COM, KENDARI—Sabtu pagi, 12 Juli 2025. Matahari menyapu langit Kendari dengan kehangatan yang sama seperti semangat intelektual yang tumbuh di jantung Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra).

Di balik dinding-dinding kampus yang kian samar, ilmu pengetahuan bersuara lantang. Bukan sekadar deret teori di atas kertas, tapi sebagai suluh dalam gelapnya persoalan pertambangan, yang mengakar di Bumi Anoa.

Sultra, tanah yang berdenyut oleh suara mesin tambang dan lalu lintas truk muatan nikel, adalah lahan subur sekaligus medan rawan bagi para pemodal, pemerintah, dan masyarakat. Di sinilah Unsultra memainkan perannya: bukan menambang nikel, melainkan menambang nalar.

Lewat kolaborasi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Pusat Kajian Konstitusi Fakultas Hukum, digelarlah Seminar Nasional bertajuk: “Bisnis Pertambangan: Risiko Pembiayaan dari Perspektif Perbankan, Politik Hukum dan Regulasi Pemerintah.”

Seminar ini bukan hanya agenda rutin akademik. Ia adalah ruang jeda sejenak menarik nafas panjang. Untuk memikirkan ulang arah industri yang semakin menggeliat namun rentan menabrak etika, hukum, dan ekosistem sosial.

Membuka kegiatan, Prof. Dr. Ir. H. Andi Bahrun, M.Sc.Agric., sang Rektor Unsultra, berdiri bukan hanya sebagai pemimpin lembaga, tapi sebagai penjaga marwah ilmu pengetahuan.

“Giat ini adalah sumbangsih akademis dari Unsultra terhadap aktivitas pertambangan di Sulawesi Tenggara,” tuturnya lugas.

“Sebelumnya kami juga menggelar seminar nasional bersama Mantan Gubernur Kalimantan Timur Bapak Isran Noor. Dan Unsultra akan terus menghadirkan giat berdampak bagi masyarakat dari prespektif Tridharma perguruan tinggi,” tambah Prof. Andi Bahrun.

Sosok yang pernah dinobatkan sebagai salah satu dari Top 100 ilmuwan dunia di bidang pertanian dan kehutanan oleh Alper-Doger Scientific Index ini, seolah menegaskan bahwa universitas tak boleh hanya menjadi menara gading. Ia harus hadir, bahkan dalam lumpur tambang, demi menjaga arah dan nilai dari pembangunan.

Di atas podium, hadir pula tiga pemateri dengan bobot keilmuan dan pengalaman yang menggugah. Prof. Dr. Johannes Ibrahim Kosasih, S.H., M.Hum. sebagai ahli hukum perbankan, Dr. Ld Bariun, S.H., M.H., pakar politik Hukum Unsultra dan Hasmirat, S.E., M.H., mewakili Bank Sultra sebagai Kabag Pemasaran Kredit.

Ketiganya menabur gagasan yang tajam tentang risiko bisnis tambang, dari ketatnya regulasi perbankan, rentannya kepastian hukum, hingga labilnya arah kebijakan negara.

Foto: Poster kegiatan Seminar Nasional tentang Bisnis Pertambangan, Sabtu (12/7/2025).

Ketua Yayasan Dikti Unsultra, Dr. M. Yusuf, S.H., M.H., menyambut kegiatan ini sebagai langkah nyata menjadikan Fakultas Hukum Unsultra sebagai poros riset hukum sumber daya alam.

“Kami punya kombinasi yang jarang dosen akademik dan praktisi tambang. Ini kekuatan besar untuk menjadi pusat kajian hukum pertambangan di timur Indonesia,” kata Dr. Yusuf.

Kegiatan ini tak hanya diisi dengan diskusi, tetapi juga ditandai oleh lahirnya kerja sama antar lembaga: MoU antara Fakultas Hukum Unsultra dan Fakultas Hukum Universitas Warmadewa, serta MoU antara Fakultas Hukum Unsultra dan Bank Sultra.

Kolaborasi ini menjadi fondasi kokoh untuk mendukung tridharma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam lanskap yang semakin menuntut adaptasi dan sinergi.

Ratusan mahasiswa hadir. Sebagian duduk diam, mencatat setiap paparan dengan mata berbinar.  Sebagian lagi tampak terlibat dalam diskusi usai sesi resmi berakhir.

Mungkin di antara mereka, kelak akan lahir penegak hukum yang tak tergoda kuasa tambang, perancang regulasi yang berpihak pada rakyat, atau analis keuangan yang tak menutup mata pada risiko ekologis.

Di tengah riuh industri yang terus menggerus hutan dan mengguncang desa-desa, Unsultra membuktikan bahwa ilmu masih punya tempat.

Bahwa suara mahasiswa masih didengar, dan diskusi akademik masih punya daya untuk menggugah nurani kebijakan. Di tanah tambang, Unsultra memilih menambang makna. (ali)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
error: Content is protected !!