BauBau—Di sebuah sudut kota yang dipeluk sunyi bukit Palagimata, di antara desir angin yang lembut menyapu Jalan Poros Kantor Walikota BauBau, lahirlah suara yang tak sekadar menggema, melainkan menyentuh dasar kesadaran, suara tentang harapan, tentang masa depan yang harus dijaga dari gelapnya jerat narkoba.
Hari itu, Rabu, 9 Juli 2025, Rosni, S.E., Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara, menghadirkan kembali denyut kepedulian terhadap generasi muda.
Dalam balutan sederhana namun bermakna, ia menggelar Sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2019 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya.
Menggandeng siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-Kota BauBau sebagai tamu utama, sebagai tunas harapan yang sedang tumbuh, yang perlu dijaga dari badai zaman.
Tempat itu, Zona 3 Palagimata, bukan sekadar titik koordinat. Ia menjadi ruang perjumpaan antara seorang wakil rakyat dengan denyut jantung masa depan negeri ini. Dalam suasana sederhana, para pelajar duduk berjejer. Wajah-wajah mereka muda, lugu, penuh semangat, namun belum sepenuhnya sadar bahwa dunia di luar tembok sekolah menyimpan racun yang tak selalu kasatmata.

Rosni tampil bukan hanya sebagai legislator. Ia hadir sebagai perempuan Sultra yang membawa hati dan ketulusan. Dengan bahasa yang membumi, ia mengajak siswa-siswi untuk menyadari bahwa narkoba tak pernah memilih korban. Ia datang diam-diam, merusak tanpa suara, dan menghancurkan dengan cepat.
“Perda ini lahir bukan untuk menghukum, tapi untuk menjaga. Menjaga kalian—anak-anak muda yang hari ini belajar memperbaiki motor, merakit listrik, atau membuat bangunan—agar esok bisa membangun bangsa, bukan malah dihancurkan oleh zat adiktif,” ujar Rosni, suaranya menggema seperti doa yang diucapkan untuk masa depan.
Tak hanya Rosni, sosialisasi itu juga menghadirkan suara dari ruang akademik. Seorang dosen dari Universitas Muhammadiyah Buton ikut menyampaikan materi.
Ia datang membawa ilmu, pengalaman, dan nasihat akademik yang menguatkan nalar siswa-siswi agar tak mudah tergoda dunia semu yang ditawarkan narkoba.
“Narkoba itu seperti jebakan tikus dengan umpan keemasan. Sekali terjebak, sulit keluar. Yang paling rentan adalah kalian yang sedang mencari jati diri, mencari teman, mencari tempat pulang,” tutur sang dosen dengan nada tenang tapi tegas.

Para siswa mendengarkan dengan saksama. Beberapa mencatat, sebagian lainnya terdiam dalam perenungan. Di antara mereka, mungkin ada yang baru sadar bahwa di luar sana, banyak tangan yang ingin menarik mereka ke jurang. Tapi hari itu, mereka belajar bahwa ada pula tangan-tangan yang ingin menarik mereka kembali ke jalan terang.
Hari mulai sore, langit Palagimata berubah warna, tapi semangat di dada para siswa tetap menyala. Rosni menatap satu per satu mereka yang pamit pulang dengan raut lebih tenang. Ia tahu, perjuangan belum selesai. Tapi setidaknya hari itu, satu langkah telah ia ambil: menyalakan lentera kecil di tengah gelapnya ancaman narkoba.
Sebab negeri ini hanya akan kuat, jika yang muda tak disesatkan. Dan Rosni, dari Zona 3 Palagimata, kembali membuktikan, bahwa politik sejati adalah menjaga yang rapuh, menguatkan yang muda, dan melindungi yang belum sempat salah. (ali).