PIKIRANLOKAL.COM, JAKARTA—Sabtu pagi itu, Jakarta belum benar-benar terbangun, tapi jejak langkah telah terdengar di lorong-lorong sunyi Mapolres Jakarta Pusat. Seorang lelaki bersetelan rapi, melangkah masuk dengan sorot mata tenang tapi penuh beban. Dialah Jalil, S.Hut, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai NasDem Konawe Utara dan anggota DPRD yang kerap disapa dalam ruang-ruang sidang maupun teras rakyat.
Hari itu, Sabtu 10 Mei 2025, bukan hari biasa baginya. Ia tengah menjalani pemeriksaan oleh penyidik kepolisian, sebuah proses hukum yang membuat nama yang pernah dielu-elukan di pedalaman Sulawesi Tenggara itu, kini bergema di tembok institusi penegak hukum Ibu Kota.
“Iya benar sedang diperiksa atas nama Jalil S.Hut,” ujar seorang sumber yang meminta agar namanya disimpan rapat seperti surat yang tak pernah dikirim.
Pemeriksaan ini disebut-sebut berkaitan dengan perkara utang piutang yang membelit, bahkan hingga menyeret-nyeret sang tokoh ke jurang dugaan penipuan. Dari beberapa laporan yang beredar, tak sedikit suara yang mendesak agar kebenaran dibuka, agar luka yang sembunyi di balik senyum politikus itu segera diketahui bentuknya.

Konawe Utara, tanah kelahiran Jalil, mungkin saat ini tengah berdebar—seperti seorang ibu yang mendengar anaknya diseret dalam badai. Rakyat yang dahulu memberikan kepercayaan dalam bentuk suara, kini mungkin mulai bertanya-tanya, di mana batas antara amanah dan ambisi?
Dalam dunia politik, nama bisa menjadi mahkota. Namun juga bisa menjadi beban. Dan hari itu, nama Jalil sedang ditimbang-timbang di hadapan hukum. Apakah ia sekadar terseret arus tuduhan, atau memang tengah berdiri di atas pasir kejujuran yang mulai runtuh, waktu yang akan memberi jawab.
Sementara itu, publik hanya bisa menunggu. Menunggu apakah pria berbasan besar itu, akan keluar sebagai yang terbebas dari sangka, atau sebagai sosok yang harus memikul konsekuensi dari keputusan-keputusan kelam yang mungkin pernah ia buat.
Di Konawe Utara, di mana pepohonan dan sungai-sungai masih mengalir tenang, kabar ini mungkin terdengar seperti petir yang memecah langit kampung halaman—mengingatkan bahwa bahkan di balik jas kebesaran politik, manusia tetaplah manusia: bisa terpeleset, bisa jatuh, dan bisa bangkit, jika masih ada niat. (ali).